Home | Penelitian | Tenaga Ahli | Patent | I k l i m new! | Produk | Info Pustaka | Links | Hubungi Kami

Bambang Drajat

KINERJA SUBSEKTOR PERKEBUNAN:

EVALUASI MASA LALU (1994-1998) DAN PROSPEK PADA ERA PERDAGANGAN BEBAS DUNIA (2003-2008)

DR. IR. BAMBANG DRADJAT, M.Ec

 

ABSTRAK

 

BAMBANG DRADJAT. Kinerja Subsektor Perkebunan: Evaluasi Masa Lalu (1994-1998) dan Prospek Pada Era Perdagangan Bebas Dunia (2003-2008) (BUNASOR SANIM sebagai Ketua, BONAR M. SINAGA, ANNY RATNAWATI dan SULTONI ARIFIN sebagai Anggota Komisi Pembimbing).

 Subsektor perkebunan merupakan salah satu subsektor yang berperan penting dalam kaitannya dengan produk domestik bruto, serapan tenaga kerja, perdagangan dan penerimaan pemerintah.  Perkembangan subsektor perkebunan dari tahun 1970-an hingga saat ini secara kuantitatif cukup memuaskan, tetapi secara kualitatif masih belum seperti yang diharapkan.  Pada situasi krisis ekonomi, kinerja subsektor perkebunan juga tidak mengalami boom. Pada era perdagangan bebas dunia, prospek kinerja subsektor perkebunan juga belum diketahui.

Secara umum, penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kinerja subsektor perkebunan masa lalu dan meramal kinerja subsektor perkebunan pada era perdagangan bebas dunia. Secara khusus, penelitian ini bertujuan untuk membangun model subsektor perkebunan, mengevaluasi dampak perubahan kebijakan produksi, fiskal (pa­jak impor, pajak ekspor, dan pajak pertambahan nilai), upah tenaga kerja dan harga pupuk serta perubahan nilai tukar Rupiah terhadap kinerja subsektor perkebunan periode tahun 1994-1998; meramal kinerja subsektor perkebunan pada era perdagangan bebas dunia periode tahun 2003-2008 dalam beberapa situasi kebijakan produksi, fiskal (pa­jak impor, pajak ekspor, dan pajak pertambahan nilai), upah tenaga kerja dan harga pupuk serta nilai tukar Rupiah, mengajukan rekomendasi kebijakan untuk meningkatkan kinerja subsektor perkebunan dalam perekonomian nasional pada era perdagangan bebas.

Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan sistem persamaan simultan dari komoditas utama perkebunan (teh, kopi, kakao, karet dan minyak sawit). Model subsektor perkebunan dan perdagangan komoditas utama perkebunan dunia yang terdiri dari 181 persamaan telah berhasil dibangun. Model ini dapat digunakan untuk tujuan simulasi melalui berbagai skenario simulasi historis dan peramalan.  Hasil simulasi yang didapat kemudian dapat digunakan sebagai landasan untuk mengevaluasi dan mengajukan alternatif-alternatif kebijakan pemerintah dalam rangka meningkatkan kinerja subsektor perkebunan.

Hasil simulasi menunjukkan bahwa pada masa lalu (1994-1998) kinerja subsektor perkebunan sebenarnya masih dapat ditingkatkan melalui penerapan kebijakan yang tepat. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa kebijakan pembangunan perkebunan, penurunan pajak pertambahan nilai dan peningkatan upah serta depresiasi secara individual maupun gabungan dapat meningkatkan sebagian besar atau seluruh kinerja subsektor perkebunan. Sedangkan pemberlakuan perdagangan bebas dan kenaikan harga pupuk berdampak negatif terhadap sebagian atau seluruh kinerja subsektor perkebunan. Dampak negatif ini dapat diredam dengan penerapan kebijakan pembangunan perkebunan atau penurunan pajak pertambahan nilai dan terjadi depresiasi nilai tukar Rupiah.

Hasil simulasi juga menunjukkan bahwa kinerja subsektor perkebunan ke depan (2003-2008) masih dapat membaik. Dengan asumsi perdagangan bebas diberlakukan dan pada saat yang sama terjadi depresiasi nilai tukar Rupiah, maka  kebijakan kebijakan pembangunan perkebunan dapat meningkatkan kinerja subsektor perkebunan, termasuk meredam dampak negatif dari pemberlakuan perdagangan bebas. Kebijakan lain yang dapat diterapkan adalah menurunkan pajak pertambahan nilai.  Namun, jika pada saat yang sama diasumsikan tidak terjadi depresiasi nilai tukar Rupiah, kebijakan lain yang dapat diterapkan adalah menggabungkan kebijakan penerapan pembangunan perkebunan dengan kebijakan penurunan pajak pertambahan nilai. Dengan asumsi tidak terjadi depresiasi dan jika disamping berlakunya perdagangan bebas juga terjadi kenaikan upah dan harga pupuk, ternyata sebagian besar kinerja subsektor perkebunan masih dapat membaik.  Kenaikan upah ternyata mampu meredam dampak negatif dari berlakunya perdagangan bebas dan kenaikan harga pupuk.

Hasil penelitian di atas mengisyaratkan perlunya pemerintah menerapkan kembali kebijakan pembangunan perkebunan secara serius untuk meningkatkan kinerja subsektor perkebunan. Kebijakan tersebut harus disesuaikan dengan perkembangan sosial ekonomi masyarakat. Alternatif lain yang dapat dipilih adalah menerapkan kebijakan penurunan pajak pertambahan nilai. Kebijakan ini perlu didukung dengan upaya peningkatan konsumsi domestik komoditas perkebunan melalui pengembangan industri hilir perkebunan.  Selain itu, kebijakan peningkatan upah juga dapat dijadikan alternatif lain.  Namun, kebijakan ini perlu didukung penciptaan lapangan kerja bagi tenaga kerja yang terlempar dari subsektor perkebunan. Penelitian ini juga merekomendasikan penelitian lanjutan yang masih perlu dilakukan . Dalam hal model, perilaku investasi di industri kelima komoditas perkebunan, perilaku produksi negara-negara pesaing Indonesia selain perilaku konsumsi negara-negara pengimpor perlu diperhitungkan.  Dalam kaitannya dengan perdagangan bebas dunia, model yang digunakan perlu memasukkan variabel-variabel hambatan teknis perdagangan (technical barrier to trade).

.

ABSTRACT

.

BAMBANG DRADJAT.  Estate Crop Sub Sector Performance: Evaluation in the Past (1994-1998) and Prospects in the Era of World Trade Liberalization (2003-2008) (BUNASOR SANIM as Chairman, BONAR M. SINAGA, ANNY RATNAWATI and SULTONI ARIFIN as Members of the Advisory Committee).

 The Estate crop sub sector is one of the important sub sectors in related with gross domestic product, labors absorption, trade and government revenue.  The estate crop sub sector development since 1970’s up to now has shown satisfactorily in terms of quantitative performance.  However, its performance has not been good as expected. During the economic crises, its performance also did not experience booming. In the future era of world trade liberalization, its performance will also be questionable.

The general objectives of this research were to evaluate the performance of estate crop sub sector in the past and to forecast its performance in the era of world trade liberalization.  Specifically, this research aimed to build of estate crop sub sector, to evaluate the effects of production, export, import and added value tax, wage and fertilizer price policies and non policy factor, namely depreciation of Rupiah, on the performance of estate crop sub sector (1994-1998); to forecast that performance (2003-2008) under various alternative production, export, import and added value tax, wage and fertilizer price policies as well as depreciation of Rupiah exchange rates, and to propose policy recommendation to improve the performance of estate crop sub sector in the era of world trade liberalization.

The approach used was the system of simultaneous equation of main primary estate crop commodities (tea, coffee, cocoa, natural rubber and palm oil). The model of estate crop sub sector and world trade of estate crop main commodities containing of 181 equations has been built. This model could be used for simulation objective through various ex-post and ex-ante scenario simulation. The results of this simulation in turn could be used as a basis to evaluate and propose government policy alternatives for improving the performance of estate crop sub sector.

The result of simulation showed that in the previous years (1994-1998) the performance of estate crop sub sector eventually could be improved through a proper policy implementation. The results of the model simulations showed that each of the policy options, i.e., estate crop de­velopment, reduction of added value tax, increase of labor wage and depreciation was able to increase most or over all performance of estate crop sub sector. Whereas the implementation of trade liberalization and the increase of fertilizer price caused negative impacts to most or overall the performance of estate crop sub sector.  These negative impacts could offset by implementing estate crop development policy and at the same time the depreciation would be likely to occur.

Simulation results also showed that in the future (2003-2008) the performance of estate crop sub sector could be likely to improve. Based on the assumption that trade liberalization would be implemented and at the same time it would be depreciation of Rupiah, the implementation of estate crop development policy could be able to improve the performance including offsetting the negative impacts of the implementation of trade liberalization.  Other policy that could be implemented would be the value added tax policy.  However, if at the same time the depreciation would not prevail, other policies that could be implemented would be to join the policy of estate crop development with the added value tax reduction policies. With absence of depreciation and there would be free trade and increase fertilizer price and labor wage, most performance of the estate crop sub sector would still be improving.  The increase of labor wage in fact was able to offset the negative impacts of trade liberalization and the increase price of fertilizer.

The results above give signs to the government for the government to re-implement the estate crop development policy seriously by taking into account the social and economic development of society.  The alternative policy would be the reduction of added value tax policy. This policy should be supported with the effort to increase domestic policy of estate crop commodities through the development of estate crop down-stream industry. In addition, the increase labor wage policy could also be recommended as an alternative policy. However, this policy should also be supported with the expansion of job opportunities in order to provide jobs for labors displaced from the sub sector. This research also came out with recommendation for further research. In terms of modeling, other aspects related with the sub sector need to be incorporated in the model.  Those would be investment behavior of those five commodities, production behavior of those five commodities in the competing country producers as well as consumption behavior of those five commodities in importing countries.  In terms of world trade liberalization, the model needs to incorporate variables of technical barriers to trade.

.


 
DAFTAR ISI

 

                                                                                             

DAFTAR TABEL. PAGEREF _Toc50901829 \h viii

DAFTAR LAMPIRAN.. PAGEREF _Toc50901830 \h viii

I....... PENDAHULUAN.. PAGEREF _Toc50901831 \h 1

1.1.   Latar Belakang. PAGEREF _Toc50901832 \h 1

1.2.   Perumusan Masalah. PAGEREF _Toc50901833 \h 3

1.3.   Tujuan Penelitian. PAGEREF _Toc50901834 \h 5

1.4.   Kegunaan Penelitian. PAGEREF _Toc50901835 \h 6

1.5.   Indikator Kinerja. PAGEREF _Toc50901836 \h 6

1.6.   Relevansi Penggunaan dan Keterbatasan Model PAGEREF _Toc50901837 \h 7

1.7.   Ruang Lingkup dan Keterbatasan Penelitian. PAGEREF _Toc50901838 \h 7

II...... TINJAUAN PUSTAKA.. PAGEREF _Toc50901839 \h 8

III.... KERANGKA PEMIKIRAN.. PAGEREF _Toc50901840 \h 9

3.1.   Teori Ekonomi Mikro dan Makro Sebagai Teori Dasar Pemodelan. PAGEREF _Toc50901841 \h 10

3.2.   Teori Penyusunan Model PAGEREF _Toc50901842 \h 10

3.3.   Kerangka Acuan Penerapan Teori Ekonomi Mikro. PAGEREF _Toc50901843 \h 12

3.3.1.   Produksi Komoditas Perkebunan Indonesia. PAGEREF _Toc50901844 \h 12

3.3.2.   Impor Komoditas Perkebunan Indonesia dan Dunia. PAGEREF _Toc50901845 \h 13

3.3.3.   Konsumsi Komoditas Perkebunan Indonesia. PAGEREF _Toc50901846 \h 15

3.3.4.   Ekspor Komoditas Perkebunan Indonesia dan Dunia. PAGEREF _Toc50901847 \h 15

3.3.5.   Integrasi Pasar PAGEREF _Toc50901848 \h 16

3.4.   Kerangka Acuan Penerapan Teori Ekonomi Makro. PAGEREF _Toc50901849 \h 17

3.4.1.   Nilai Tambah dan Pendapatan Domestik Bruto. PAGEREF _Toc50901850 \h 18

3.4.2.   Serapan Tenaga Kerja. PAGEREF _Toc50901851 \h 18

3.4.3.   Neraca Perdagangan. PAGEREF _Toc50901852 \h 19

3.4.4.   Penerimaan dan Pengeluaran Pemerintah. PAGEREF _Toc50901853 \h 19

3.5.   Keterkaitan Ekonomi Mikro dan Makro. PAGEREF _Toc50901854 \h 20

3.6.   Kerangka Acuan Analisis Indikator Kinerja Subsektor Perkebunan. PAGEREF _Toc50901855 \h 20

3.6.1.   Nilai Tambah dan Pangsa Nilai Tambah. PAGEREF _Toc50901856 \h 21

3.6.2.   Serapan, Pangsa Serapan dan Indeks Produktivitas Tenaga Kerja. PAGEREF _Toc50901857 \h 21

3.6.3.   Neraca Perdagangan, Nilai Ekspor, Nilai Impor dan Rasio Perdagangan  PAGEREF _Toc50901858 \h 21

3.6.4.   Penerimaan dan Pangsa Penerimaan Pajak. PAGEREF _Toc50901859 \h 22

3.7.   Spesifikasi Model PAGEREF _Toc50901860 \h 23

3.8.   Analisis Kebijakan dan Non Kebijakan. PAGEREF _Toc50901861 \h 24

 IV.... PROSEDUR ESTIMASI DAN SIMULASI PAGEREF _Toc50901862 \h 25

4.1.   Identifikasi Model PAGEREF _Toc50901863 \h 25

4.2.   Metode Estimasi PAGEREF _Toc50901864 \h 25

4.3.   Jenis dan Sumber Data. PAGEREF _Toc50901865 \h 26

4.4.   Pengujian Statistik. PAGEREF _Toc50901866 \h 26

4.5.   Validasi PAGEREF _Toc50901867 \h 26

4.6.   Simulasi PAGEREF _Toc50901868 \h 27

4.6.1.   Simulasi Historis (1994-1998) PAGEREF _Toc50901869 \h 27

4.6.2.   Simulasi Peramalan (2003-2008) PAGEREF _Toc50901870 \h 28

4.7.   Skenario Simulasi Historis (1994-1998) dan Peramalan (2003-2008) PAGEREF _Toc50901871 \h 28

V..... HASIL DAN PEMBAHASAN.. PAGEREF _Toc50901872 \h 29

5.1.   Hasil Umum Estimasi Model PAGEREF _Toc50901873 \h 29

5.2.   Validasi Model PAGEREF _Toc50901874 \h 31

5.3.   Analisis Kinerja Subsektor Perkebunan. PAGEREF _Toc50901875 \h 31

5.3.1.   Evaluasi Dampak Berbagai Skenario Kebijakan dan Non Kebijakan: Simulasi Historis  (1994-1998) PAGEREF _Toc50901876 \h 33

5.3.2.   Evaluasi Dampak Berbagai Skenario Kebijakan dan Non Kebijakan: Simulasi Peramalan  (2003-2008) PAGEREF _Toc50901877 \h 36

VI.... KESIMPULAN DAN SARAN.. PAGEREF _Toc50901878 \h 39

6.1.   Kesimpulan. PAGEREF _Toc50901879 \h 39

6.2.   Saran      PAGEREF _Toc50901880 \h 41

6.2.1.   Kebijakan. PAGEREF _Toc50901881 \h 41

6.2.2.   Penelitian Lanjutan. PAGEREF _Toc50901882 \h 41

DAFTAR PUSTAKA.. PAGEREF _Toc50901883 \h 41

.


 

DAFTAR TABEL

 TOC \h \z \t "Tabel,4" 1............ Ringkasan Hasil Simulasi Historis (1994-1998) PAGEREF _Toc50864260 \h 60

2............ Ringkasan Hasil Simulasi Peramalan (2003-2008) PAGEREF _Toc50864261 \h 38

.

.

DAFTAR LAMPIRAN

.

 TOC \h \z \t "Lampiran,6" 1............ Simulasi Historis (1994-1998): Dampak Depresiasi Nilai Tukar Rupiah (Skenario 5) terhadap Kinerja Subsektor Perkebunan. PAGEREF _Toc50864988 \h 41

2............ Simulasi Peramalan (2003-2008): Dampak Depresiasi Nilai Tukar Rupiah (Skenario 15) terhadap Kinerja Subsektor Perkebunan. PAGEREF _Toc50864989 \h 41

3............ Simulasi Peramalan (2003-2008): Dampak Penerapan Kebijakan Pembangunan Perkebunan, Perdagangan Bebas Dunia dan Depresiasi Nilai Tukar Rupiah (Skenario 16) terhadap Kinerja Subsektor Perkebunan. PAGEREF _Toc50864990 \h 41


 

I.       PENDAHULUAN

1.1.      Latar Belakang

Dalam pereko­nomian Indonesia, subsektor perkebunan merupakan salah satu subsektor  yang berperan penting.  Sejak awal tahun 1970-an subsektor perkebunan dipacu pertumbuhannya melalui berbagai kebijakan produksi, investasi, ekspor, dan berbagai kebijakan lain­nya.  Hal ini dilakukan untuk meningkatkan kinerja subsektor perkebunan dalam perekono­mian nasional.  Arah kebijakan pemerintah tersebut sesuai dengan ke­unggulan komparatif subsektor perkebunan di pasar domestik dan internasional.  Beberapa peneliti telah mem­buktikan adanya keunggulan komparatif subsektor perkebunan, seperti ditunjukkan oleh Suprihatini et al. (1996) untuk teh, Simanjuntak (1992) dan Susila (1998) untuk minyak sawit, dan Susila (1999) untuk kopi.

Hasil pembangunan perkebunan menunjukkan kinerja subsektor perkebunan secara kuantitatif cukup berkembang.  Peranan subsektor perkebunan dalam sumbangannya terhadap Produk Domestik Bruto dalam periode tahun 1970-1996 cenderung meningkat.  Data dari Badan Pusat Statistik, berdasarkan harga yang berlaku, menunjukkan bahwa Produk Domestik Bruto  (PDB) subsektor perkebunan tahun 1970 sebesar Rp.  6 756 juta dan tahun 1996 sebesar Rp. 50 528 juta.  Angka di atas menujukkan adanya pertumbuhan PDB sebesar 8.38 persen per tahun.

Peranan subsektor perkebunan berdasarkan PDB tersebut erat kaitannya dengan perkembangan produksi komoditas perkebunan, terutama yang berasal dari lima komoditas utama perkebunan yaitu teh, kopi, kakao, karet dan kelapa sawit.  Selama periode tahun 1970-1996, data dari Direktorat Jenderal Bina Produksi Perkebunan menunjukkan bahwa produksi untuk kelima komoditas utama perkebunan di atas tumbuh sekitar 7.26 persen per tahun.  Produksi kelima komoditas perkebunan tersebut berasal dari Perkebunan Rakyat (PR), Perkebunan Besar Milik Negara (PBN) dan Perkebunan Swasta (PBS).

Lebih lanjut dapat disampaikan bahwa perkembangan produksi di atas ditentukan terutama oleh perkembangan luas areal, disamping produktivitas.  Dalam periode tahun 1970-1996, perkembangan luas areal PR, PBN dan PBS  untuk lima komoditas utama perkebunan meningkat 3.3 persen per tahun.  Sedangkan pada sisi produktivitas, peningkatan produktivitas juga berlangsung.  Sebagai contoh, produktivitas karet di PR pada tahun 1970 sekitar 0.53 ton/ha dan pada tahun 1996 mencapai 0.64 ton/ha.

Peranan penting lain dari subsektor perkebunan adalah dalam penyerapan tenaga kerja.  Kinerja subsektor perkebunan dalam penyerapan tenaga kerja diperkirakan selalu mengalami peningkatan sejalan dengan perkembangan luas areal perkebunan.  Dengan menggunakan pendekatan indeks serapan tenaga kerja di perkebunan (on farm), jumlah serapan tenaga kerja di perkebunan untuk kelima komoditas utama perkebunan tahun 1970 sekitar  950 ribu orang, sedangkan pada tahun 1996 sekitar 3.9 juta orang.  Hal ini berarti serapan tenaga kerja untuk kelima komoditas utama perkebunan di atas meningkat sekitar 5.9 persen per tahun.  Untuk subsektor perkebunan secara keseluruhan, Pakpahan (2000) menyampaikan bahwa pada tahun 1994 jumlah tenaga kerja yang ter­serap mencapai 16.2 juta orang. Mereka ter­libat di subsektor perkebunan sebagai pekerja/buruh perusahaan PBN dan PBS serta petani PR.

Subsektor perkebunan secara tradisional menghasilkan berbagai komoditas termasuk kelima komoditas utama di atas yang diperdagangkan secara internasional.  Dengan demikian subsektor perkebunan juga berperan penting sebagai penghasil devisa.  Pada periode tahun 1970-1996, penerimaan ekspor kelima komoditas utama perkebunan senantiasa meningkat.  Pada tahun 1970, penerimaan ekspor dari kelima komoditas utama perkebunan di atas tercatat US$ 308 juta dan pada tahun 1996 meningkat menjadi US$ 3.8 milyar.  Angka tersebut menunjukkan bahwa penerimaan ekspor selama periode 1970-1996 meningkat sekitar 10.6 persen per tahun.

Subsektor perkebunan juga tercatat sebagai salah satu sumber penerimaan pemerintah melalui penerimaan pajak.  Pemerintah antara lain menerapkan pajak impor, ekspor dan pajak pertambahan nilai pada beberapa komoditas perkebunan, termasuk komoditas primer utama, yaitu teh, kopi, kakao, karet dan minyak sawit.  Khusus tentang pajak ekspor, saat ini penerimaan pajak ekspor hanya bersumber dari ekspor minyak kelapa sawit.

Krisis ekonomi yang dialami Indonesia sejak pertengahan tahun 1997 mencuatkan harapan akan prospek subsektor perkebunan.  Saragih (1998) dalam Dradjat et al. (eds) (1999) menyatakan bahwa subsektor perkebunan yang berbasis pada sumberdaya domestik dan menggu­nakan input utama berupa non tradable goods seperti lahan, tenaga kerja dan agrokli­mat diperkirakan mengalami booming karena dengan terdepresiasinya rupiah hingga 500-700 persen maka harga produk-produk perkebunan Indonesia di pasar internasional menjadi “lebih mu­rah”.

Selain berkaitan dengan krisis ekonomi di atas, subsektor perkebunan juga dihadapkan pada situasi perdagangan bebas dunia.  Seperti telah diketahui, perdagangan bebas disepa­kati untuk dijalankan paling lambat tahun 2001 bagi negara maju dan tahun 2006 bagi negara berkembang. Perdagangan internasional komoditas perkebunan, se­suai persetujuan Putaran Uruguay (PU) tahun 1993, akan terbebas dari adanya ham­batan berbagai kebijakan intervensi, selain kebijakan tarifikasi. Sebagai contoh, ko­mit­men yang telah disepakati oleh negara-negara maju yang mengimpor minyak naba­ti adalah menurunkan tarif impor komoditas tersebut sebesar 36 persen hingga tahun 2000 (Pasquali, 1995). 

Kinerja subsektor perkebunan sejak tahun 1970-an hingga 1996, masa krisis dan pada masa perdagangan bebas di atas nampaknya perlu dievaluasi dan diramal.  Penelitian terdahulu yang berkaitan dengan evaluasi dan peramalan kinerja subsek­tor perkebunan pada umum­nya menggunakan model pendekatan ekonometrika yang berorientasi mikroekonomi (model komoditas) dan yang berorientasi makroekono­mi saja, walaupun telah ada yang menggabungkan keduanya. Namun penelitian-penelitian dimaksud tidak meng­analisis subsektor perkebunan secara rinci.

1.2.      Perumusan Masalah

Kinerja subsektor perkebunan seperti diuraikan di latar belakang ternyata masih mengandung kelemahan apabila dinilai secara kualitatif.  Perkebunan Indonesia telah tertinggal dari perkebunan negara tetangga, khususnya Thailand dan Malaysia.  Sebagai contoh, saat ini produktivitas karet PR adalah 0.6 ton/ha/tahun masih lebih rendah dibandingkan produktivitas karet PB yang mencapai 1.1 ton/ha/tahun. Namun, produktivitas karet Indonesia ini masih lebih rendah dibanding­kan produktivitas karet Thailand yang mencapai 1.5-2.0 ton/ha/tahun.  Produktivitas kelapa sawit PR adalah 2.5 ton CPO/ha/tahun lebih rendah dibandingkan produktivitas kelapa sawit PB yang mencapai 3.2-4.6 ton CPO/ha/tahun.  Seperti halnya karet, produk­tivitas kelapa sawit Indonesia ini masih rendah dibandingkan produktivitas kelapa sawit negara lain (Malaysia) yang mencapai 6-7 ton CPO/ha/tahun (Pakpahan, 2000).  Selain itu, tingkat produktivitas yang dicapai perkebunan di Indonesia masih berada di bawah potensi produktivitas masing-masing jenis komoditas.  Sebagai informasi, potensi produktivitas teh, kopi, kakao, karet dan minyak sawit masing-masing adalah 2.1 ton/ha/tahun, 1.2 ton/ha/tahun, 1.5 ton/ha/tahun, 1.6 ton/ha/tahun, dan 7-8 ton/ha/tahun.

Khusus dalam perolehan nilai tambah, Pakpahan (2000) menilai adanya keterbatasan perolehan nilai tambah oleh PBN dan PBS.  Hal ini tercermin dari produk yang dihasilkan dari PBN maupun PBS yang masih bersifat produk-produk primer perkebunan.  Dalam konteks pembangunan, hal ini menunjukkan bahwa Indonesia masih mewarisi sejarah sebagai pasar bahan baku bagi industri hilir perkebunan yang diusahakan di negara-negara maju.

Dalam hal serapan tenaga kerja, peningkatan jumlah serapan tenaga kerja di subsektor perkebunan nampaknya tidak diikuti dengan peningkatan pangsa serapan tenaga kerja.  Hal ini tercermin dari pangsa serapan tenaga kerja subsektor perkebunan terhadap jumlah serapan tenaga kerja nasional yang cenderung stabil sekitar 4 persen.  Dalam hal penerimaan ekspor, sejalan dengan penurunan harga-harga komoditas perkebunan di pasar internasional sejak akhir tahun 1980-an, pangsa nilai ekspor lima komoditas utama perkebunan terhadap nilai ekspor non migas turun dari sekitar 3.73 persen pada tahun 1970 menjadi 0.36 persen pada tahun 2000. Sedangkan dalam hal penerimaan pajak, kecuali terhadap pajak impor, para pelaku usaha perkebunan cenderung mengeluh karena berbagai pajak dan pungutan lainnya dalam implementasinya telah dirasa sebagai beban yang menimbulkan disinsentif untuk meningkatkan produksi dan produktivitas.

Perkiraan adanya bonanza di subsektor perkebunan dengan adanya krisis ekonomi ternyata belum menjadi kenyataan, setidaknya dalam jangka pendek.  Sebagai contoh, nilai ekspor lima komoditas utama di atas dalam kurun waktu 1997 hingga 1998 tidak mengalami booming secara fundamental. Peningkatan nilai ekspor komoditas utama perkebunan (teh, kopi, kakao, karet, dan minyak sawit) masih terbatas pada kenaikan nilai ekspor dalam rupiah se­bagai akibat depresiasi rupiah (Arifin et al. dalam Simatupang et al. (eds) (1999).

Walaupun kemungkinan dijumpai adanya adding-up problem[1], volume ekspor komoditas utama tersebut diharapkan naik secara konsisten seiring dengan perubahan harga dan nilai tukar.  Seperti diungkapkan oleh Arifin et al. dalam Simatupang et al. (eds) (1999), dalam kurun waktu 1997 hingga 1998 di atas, volume ekspor mengalami fluktuasi tidak searah dengan perubahan harga dan nilai tukar rupiah.  Bahkan, pada tahun 1998 nilai ekspor kelima komoditas tersebut lebih rendah dibandingkan nilai ekspor tahun 1997.

Perubahan krisis ekonomi menjadi krisis multidimensi menimbulkan dinamika baru bagi subsektor perkebunan.  Banyak perusahaan perkebunan, PBN dan PBS, mengalami goncangan sebagai akibat muncul dan berkembangnya konflik sosial yang bermuara pada terjadinya penjarahan lahan dan gangguan keamanan berusaha.   Pakpahan (2000) mencatat bahwa kerugian akibat konflik sosial ini bukan hanya kerugian material yang pada tahun 1998 ditaksir mencapai Rp. 2.6 trilyun, tetapi juga korban jiwa dan berkembangnya situasi sosial yang nerugikan semua pihak.

Permasalahan dan prospek subsektor per­kebunan pada masa perdagangan bebas mendatang diperkirakan akan meng­alami pe­rubah­an.  Kenyataan belum maksimalnya kinerja subsektor perkebunan dalam situasi krisis di atas mengisyaratkan perlunya suatu analisis kri­tis (evaluasi) terhadap kinerja subsektor perkebunan. Sedangkan untuk mengetahui prospek subsektor perkebunan dalam era liberalisasi memerlukan dilakukannya analisis kritis lain (peramalan) terhadap kinerja subsektor perkebunan. Evaluasi dan peramalan kinerja subsektor perkebunan dilakukan dengan menduga efektifitas faktor kebijakan dan faktor non kebijakan yang diperkirakan mem­pengaruhi kinerja subsektor perkebun­an. Berbagai kebijakan yang diterapkan peme­rintah tersebut diantaranya adalah ke­bijakan produksi, pajak ekspor, pajak impor, dan pajak pertambangan nilai, sedangkan faktor non kebijakan diantaranya adalah nilai tukar.

1.3.      Tujuan Penelitian

Berdasarkan latar belakang dan masalah yang telah dikemukakan di atas, peneliti­an ini secara umum bertujuan untuk mengevaluasi kinerja subsektor perkebunan masa lalu (1994-1998) dan meramal kinerja subsektor perkebunan pada era perdagangan bebas (2003-2008).  Secara khusus, tujuan penelitian adalah se­bagai berikut:

1.      Membangun model subsektor perkebunan Indonesia dalam kaitannya dengan perdagangan komoditas utama perkebunan di tingkat dunia ;

2.      Mengevaluasi dampak perubahan kebijakan produksi, fiskal (pa­jak impor, pajak ekspor, dan pajak pertambahan nilai), upah tenaga kerja dan harga pupuk serta perubahan nilai tukar Rupiah terhadap kinerja subsektor perkebunan periode tahun 1994-1998; dan

3.      Meramal kinerja subsektor perkebunan pada era perdagangan bebas dunia periode tahun 2003-2008 dalam beberapa situasi kebijakan produksi, fiskal fiskal (pa­jak impor, pajak ekspor, dan pajak pertambahan nilai), upah tenaga kerja dan harga pupuk serta nilai tukar Rupiah;

4.      Mengajukan rekomendasi kebijakan untuk meningkatkan kinerja subsektor perkebunan dalam perekonomian nasional pada era perdagangan bebas.

1.4.      Kegunaan Penelitian

Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi pemegang kebijakan dalam menentukan arah kebijakan,  mengambil keputusan kebijakan dan mengajukan strategi implementasi dari beberapa alternatif kebijakan yang berkaitan dengan kinerja subsektor perkebunan dalam perekonomian nasional.  Selain itu, penelitian ini diharapkan dapat berguna untuk memberikan wacana bagi para pelaku usaha perkebunan dalam menjalankan usahanya, baik dalam lingkup nasional maupun global dan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan.

1.5.      Indikator Kinerja

Kinerja subsektor perkebunan menyangkut hal-hal yang berkaitan dengan aspek mikro dan makro subsektor perkebunan.  Kinerja subsektor perkebunan terse­but dianali­sis dengan membandingkan perkembangan kinerja subsektor tersebut de­ngan atau tanpa adanya perubahan faktor kebijakan dan non kebijakan baik masa lalu ataupun masa yang akan datang.  Kinerja tersebut dilihat dalam nilai absolut beberapa indikator dan nilai-nilai relatif dari beberapa indikator kinerja dalam perekonomian nasional. Nilai relatif ini mencerminkan kemajuan subsektor perkebunan terhadap subsektor lain. Beberapa indikator kinerja yang dianalisis meliputi : nilai tambah subsektor perkebunan, serapan tenaga kerja subsektor perkebunan, nilai ekspor subsektor perkebunan, nilai impor subsektor perkebunan, penerimaan pajak dari subsektor perkebunan, pangsa nilai tambah subsektor perkebunan terhadap pendapatan nasional, pangsa serapan tenaga kerja subsektor perkebunan terhadap serapan tenaga kerja nasional, neraca perdagangan subsektor perkebunan, produktivitas tenaga kerja subsektor perkebunan, pangsa nilai ekspor subsektor perkebunan terhadap nilai ekspor non migas, rasio ekspor-impor, dan pangsa penerimaan pajak subsektor perkebunan terhadap penerimaan domestik.

1.6.      Relevansi Penggunaan dan Keterbatasan Model

Penelitian ini menggunakan pendekatan model gabungan mikro dan makroekonometrika. Model ekonometrika gabungan ini belum banyak di­kem­bangkan di Indonesia; model-model yang ada masih terbatas pada model komoditas yang pada dasarnya merupa­kan model mikroekonometrika saja.

Model yang akan dibangun selanjutnya digunakan sebagai alat untuk memahami kompleksitas pasar untuk keperluan evaluasi dan peramalan. Model ekonometrika subsektor perkebunan yang akan dikembangkan tersebut merupakan model simulasi, yaitu model pasar yang mempunyai sifat dinamis dan didalamnya terkandung variabel kebijakan dan non kebijakan.  Penggunaan model jenis ini dapat memberikan informasi secara lengkap kepada pe­megang kebijakan dan pihak lainnya tentang subsektor perkebunan, termasuk untuk menguji efekti­fitas kebijakan makro ekonomi pada subsektor perkebunan melalui simulasi kebijakan. 

Namun demikian, model mempunyai keterbatasan dalam hal mengkuantifikasi  berbagai faktor yang bersifat kualitatif, seperti masalah konflik sosial dan kesehatan lingkungan di subsektor perkebunan. Oleh karena itu, seperti dikemukakan oleh Boediono (1979), peng­gunaan model ekonometrika ini tidak berarti bahwa intuisi dan penilaian kualitatif dari perumus kebijakan tidak diperlukan lagi. 

1.7.      Ruang Lingkup dan Keterbatasan Penelitian

Subsektor perkebunan mencakup lebih dari 30 komoditas dan sebagian besar komoditas tersebut diekspor ke berbagai negara. Oleh karena itu, pembatasan ruang lingkup penelitian perlu dilakukan dengan melakukan pemilihan komoditas.  Kriteria pemilihan komoditas tersebut dilakukan berdasarkan pada jenis komoditas, indikator kinerja subsektor perkebunan, jenis pengusahaan, kemampuan mengoperasionalkan cakupan komoditas dalam model dan ketersediaan data.  Berdasarkan kriteria tersebut, maka komoditas perkebunan yang terpilih adalah teh, kopi, kakao, karet dan minyak sawit.

.

II.      TINJAUAN PUSTAKA

Penelitian terdahulu, baik untuk kepentingan evaluasi dan/atau peramalan, yang merupakan penelitian ekonomi mikro dan makro atau gabungan keduanya dan yang berkaitan dengan kinerja subsektor perkebunan, masih terbatas.  Penelitian yang telah dilakukan, baik sebelum maupun pada era perdagangan bebas, pada umumnya menekankan pada kinerja produksi dan perdagangan komoditas perkebunan tertentu, bukan sub (sektor) perkebunan.  Namun demikian, terdapat beberapa penelitian yang relevan untuk dijadikan acuan dalam penelitian ini, terutama dalam hal pendekatan.

Penelitian yang berwawasan ekonomi mikro atau berorientasi komoditas per­ke­bunan tertentu antara lain dilakukan oleh Suryana (1986), Susilowati (1989), Simanjuntak (1992), Manurung (1993), Limbong (1994), Susila, et al. (1994 dan 1995), Dradjat, Dereinda, dan Abbas (1995), Sihotang (1996), Marks, Larson, dan Pomeroy (1998), dan Zulkifli (2000). Sedangkan penelitian yang berwawasan ekonomi makro dianta­ranya dilakukan oleh Boediono (1979), Central Bureau of Statistics (1984), dan Ratna­wati (1996).  Selanjutnya, penelitian yang berorientasi gabungan diantaranya dilakukan oleh Wahyudi (1996), Hanani (2000), dan Widjaja (2000).

Berbagai penelitian terdahulu yang berkaitan dengan subsektor perkebunan tersebut menunjukkan hal-hal sebagai berikut:

(i)      Terdapat berbagai pendapat tentang variabel yang diduga mempengaruhi blok-blok dalam perekonomian yang meliputi blok produksi, neraca perda­gang­an, keuangan, dan harga.

(ii)     Model persamaan yang digunakan terdiri dari dua macam, yaitu model persamaan parsial (tunggal) dan simultan. Selain itu, terdapat penelitian yang meng­gunakan pendekatan formula.

(iii)    Metode estimasi parameter yang digunakan adalah Two Stage Least Squares (2 SLS) untuk persamaan simultan dan Ordinary Least Squares (OLS) untuk persamaan parsial.

(iv)    Komoditas perkebunan yang dianalisis dianggap sebagai komoditas yang homogen dalam arti jenis mutu komoditas dimaksud tidak dibedakan.

(v)     Pada penelitian yang berorientasi ekonomi mikro, produksi diperlakukan seba­gai persamaan identitas/definisi, yaitu perkalian antara areal tanaman meng­hasilkan dengan tingkat produktivitas.  Pada penelitian ini belum ada analisis pe­nawaran dan permintaan komoditas perkebunan secara me­nyeluruh. Pada umumnya, analisis dititikberatkan pada persamaan-persa­maan produksi, penawaran ekspor, permintaan impor, dan harga.

(vi)    Pada penelitian yang berorientasi ekonomi makro, perekonomian dikelom­pokkan ke dalam blok-blok yang penentuannya sangat tergantung dari tujuan penelitian.  Namun pada penelitian-penelitian dimaksud, subsektor per­ke­bunan belum dianalisis secara rinci baik dalam cakupan komoditas dalam subsektor maupun cakupan subsektor dalam sektor.

(vii)   Kesimpulan (v) dan (vi) di atas berlaku juga untuk penelitian yang berorientasi gabungan.

.

III.    KERANGKA PEMIKIRAN

Seperti telah disinggung sebelumnya, penelitian ini menggunakan pendekatan model ekonometrika.  Penggunaan model komoditas primer, termasuk komoditas per­ke­bunan telah lama berkembang di kalangan peneliti.  Labys dan Pollak (1984) men­jelaskan bahwa model digunakan karena model tersebut dapat mencerminkan tidak ha­nya pengetahuan yang mendalam tentang kompleksitas pasar, tetapi juga ke­mam­puan­nya sebagai alat pengukur berbagai pengaruh, yaitu faktor ekonomi dan non-ekonomi di pasar dan menangkap perilaku faktor-faktor terpengaruh.

Dalam penerapannya, pendekatan model berkembang tidak hanya pada model ko­mo­ditas saja, tetapi sampai model sektor serta gabungan keduanya.  Model pertama pada hakekatnya merupakan model ekonomi mikro, sedangkan model kedua meru­pakan model ekonomi makro.  Pendekatan pertama mengutamakan kaitan-kaitan antar variabel dalam setiap blok/sektor atau antar blok/sektor, sedangkan pendekatan kedua lebih menitik beratkan pada kaitan-kaitan blok/sektor dalam pereko­nomian.  Pendekatan pertama sangat bermanfaat untuk melihat kinerja industri komoditas perkebunan. Sedangkan pendekatan kedua berguna untuk melihat kinerja subsektor perkebunan dalam perekonomian nasional.

3.1.      Teori Ekonomi Mikro dan Makro Sebagai Teori Dasar Pemodelan

Dengan memahami hal-hal yang berkaitan dengan model di atas, maka penge­ta­huan teori­tis dan empiris tentang fenomena yang dianalisis menjadi sangat penting. Teori ekonomi mikro dan makro merupakan teori yang sangat relevan dalam penyu­sunan model ekonometrika. Dalam hal teori ekonomi mikro, maka teori struktur pasar sa­ngat penting. Sedangkan teori pendapatan dan pengeluaran nasional serta teori tenaga kerja merupakan teori yang perlu dipahami dari sisi teori ekonomi makro.

Dalam konteks pasar internasional komoditas perkebunan dengan struktur pa­sar bersaing, maka teori struktur bersaing merupakan teori dasar dalam penyusunan model.  Dalam teori ekonomi mikro, permin­taan pasar merupakan penjumlahan total dari permin­taan konsumen individual di pa­sar terhadap suatu barang pada harga tertentu.  Penawaran pasar merupakan pena­waran industri, yaitu penjumlahan penawaran perusahaan secara individual pada harga tertentu.  Harga merupakan nilai titik keseim­bangan antara kekuatan permintaan dan pena­waran suatu barang di pasar.

Dalam konteks (sub) sektor, maka komoditas perkebunan termasuk dalam sub­sektor perkebunan dan merupakan bagian dari perekonomian nasional. Mengacu pada teori ekonomi mak­ro, nilai tambah dan pendapatan domestik bruto subsektor perkebunan merupakan komponen dari pendapatan nasional apabila dilihat dari sisi pendekatan produksi.  Dalam pendekatan ini juga terkait tenaga ker­ja yang terserap di subsektor perkebun­an.  Ekspor dan impor subsektor perkebunan merupa­kan bagian penting dari penda­pat­an nasional apabila dilihat dari pendekatan pengeluaran. Sedangkan, pajak yang di­peroleh dari sub­sektor perkebunan menjadi bagian dari pendapatan nasional dilihat dari pendekatan penerimaan.

3.2.      Teori Penyusunan Model

Secara sederhana, model diartikan sebagai abstraksi, penyederhanaan, repre­sen­tasi dari dunia nyata.  Penerapan model dalam penelitian telah meluas ke berbagai pendekatan kuan­titatif, salah satu diantaranya adalah dalam penelitian ekonometrika. Kriteria penyusunan model adalah model harus realistis dan da­pat dioperasionalisasikan.  Model yang memenuhi kriteria ekonomi dan statistik merupakan model ekonometrika.  Dalam penelitian ini, model ekonometrika tersebut dimaksudkan sebagai model ekonometrika subsektor perkebunan yang merupakan suatu penjelasan nyata dari fenomena yang berhubungan dengan subsektor perkebunan dan dirumuskan secara matematis sebagai suatu sistem yang terdiri dari beberapa blok yang saling terkait. Menurut Koutsoyiannis (1977) penyusunan model ekonometrika meliputi empat tahap, yaitu (1) spesifikasi model, (2) estimasi model untuk menguji hipotesis, (3) evaluasi hasil estimasi, dan (4) validasi model untuk evaluasi dan/atau peramalan.  Tahap pertama dan ketiga merupakan tahap yang paling penting dalam penelitian ekonometrika.

Labys dan Pollak (1984) mem­bedakan model ekonometrika kedalam beberapa jenis, yaitu model pasar, model sistem dinamis, dan model sistem simulasi. Model pasar merupakan jenis model yang paling dasar dalam model ekonometrika. Model ini memfokuskan mekanisme har­ga untuk menjaga keseimbangan pasar.

Model pasar tidak sepenuhnya dapat menangkap dunia nyata yang bersifat di­namis, dalam arti tidak memasukkan pengaruh faktor pada waktu sebelumnya, penga­ruh dampak, dan stabilitas model.  Model sistem dinamis memasukkan hal-hal terse­but dalam sistem persamaan yang ber­sifat simultan. Pemahaman mendasar dari mo­del ini adalah memasukkan perilaku siklus dalam hu­bungan faktor, seperti produksi dan harga, dengan menerapkannya dalam bentuk data serial waktu.

Model pasar dan model sistem dinamis di atas dapat mencakup variabel kepu­tusan atau kebijakan yang diperlukan untuk mensimulasi pasar atau industri yang dianalisis. Model demikian disebut model simulasi, yaitu model pasar atau model sis­tem dinamis yang memasukkan variabel kebijakan dan non kebijakan yang mencerminkan tujuan peneli­tian dan menggunakan prinsip sistem dalam analisis.

Dari penjelasan di atas nampak bahwa penggunaan model telah menjadi kebu­tuhan dalam penelitian, walaupun model dimaksud tidak menjamin dapat mempre­diksi perkembangan pasar atau industri secara konsisten.  Mengacu pada pendapat Labys dan Pollak (1984), penggunaan model dapat memberikan wawasan untuk melakukan in­vestasi, produksi, dan keputusan penjualan bagi produsen, keputusan pembelian bagi konsumen, pengambilan kebijakan bagi pemerintah, menjadi alat untuk memahami secara mendalam kompleksitas pasar atau industri untuk keperluan peramalan, dan meng­evaluasi kebijakan pemerintah.

3.3.      Kerangka Acuan Penerapan Teori Ekonomi Mikro

Komoditas perkebunan pada umumnya merupakan komoditas yang diperda­gangkan secara internasional. Struktur pasar internasional komoditas perkebunan ini pada umumnya bersifat kompetitif.  Oleh karena itu, prinsip-prinsip teori ekonomi mikro seperti diuraikan di depan dapat digunakan sebagai sandaran dalam penyusun­an model dalam penelitian ini.  Kerangka teoritis model mikroekonometrika komoditas perkebunan akan disajikan berikut ini.

Dengan pendekatan integrasi pasar, maka model yang akan dibangun tidak secara eksplisit mengaitkan mekanisme penawaran dan permintaan secara langsung. Dengan pengertian ini, maka harga, produksi, konsumsi, ekspor dan im­por merupakan komponen dasar dalam penyusunan model.

3.3.1.   Produksi Komoditas Perkebunan Indonesia

Produksi teh, kopi, kakao, karet dan minyak sawit bersumber dari perkebunan rakyat, perkebunan besar milik negara, dan perkebunan besar swasta. Produksi komo­ditas perkebunan tersebut didefinisikan sebagai hasil perkalian produktivitas dan luas areal menghasilkan.  Produk­tivitas diperkirakan tergantung dari berbagai faktor, seperti curah hujan (iklim), harga pupuk, harga output, upah, kebijakan pembangunan perkebunan, dan faktor lainnya. Fungsi umum produktivitas tersebut dirumuskan sebagai berikut:

            Produktivitas = f (harga pupuk, upah, harga output, kebijakan pembangunan perkebunan, iklim) (3.1)

.

Harga pupuk diperkirakan berpengaruh negatif terhadap produktivitas karena kenaikan harga pupuk diperkirakan akan menyebabkan produsen mengurangi jumlah pembelian pupuk untuk tanaman sehingga produktivitas akan turun.  Upah dan harga output diperkirakan berpengaruh positif artinya kenaikan upah pekerja dan harga output akan meningkatkan produktivitas.  Hal ini terjadi karena kenaikan upah akan memotivasi pekerja untuk meningkatkan produktivitasnya.  Kenaikan produktivitas pekerja ini selanjutnya akan meningkatkan produktivitas.  Sedangkan kenaikan harga output akan menyebabkan terjadinya kenaikan insentif (keuntungan) bagi produsen.  Produsen  selanjutnya akan meningkatkan efisiensi alokasi sumber daya (input) sehingga produktivitas meningkat. 

Dalam penelitian ini, faktor kebijakan pembangunan perkebunan dan iklim didekati dengan menggunakan variabel dummy.  Produktivitas pada saat adanya kebijakan pembangunan perkebunan diperkirakan lebih tinggi dibandingkan tanpa adanya kebijakan tersebut.  Hal ini terjadi karena pada saat adanya kebijakan pembangunan perkebunan produsen mendapatkan berbagai kemudahan dan subsidi input.  Kemudahan dan subsidi input ini akan memperlancar penggunaan input sehingga produktivitas meningkat. Sebaliknya, produktivitas akan lebih rendah pada saat adanya kekeringan.  Kekeringan berdampak negatif terhadap ketersediaan air yang dibutuhkan tanaman dan selanjutnya mempengaruhi fisiologis tanaman sehingga produktivitas turun.   

 Pada sisi lain, luas areal menghasilkan diperkirakan tergan­tung dari beberapa faktor, seperti luas tanaman belum menghasilkan beberapa ta­hun sebelumnya, serapan tenaga kerja dan harga output.  Fungsi umum luas areal menghasilkan tersebut dirumuskan sebagai berikut:

.

            Luas areal menghasilkan = f (luas areal belum menghasilkan, serapan      tenaga kerja, harga output)       (3.2)

.

Luas areal belum menghasilkan diperkirakan berpengaruh positif terhadap luas areal menghasilkan.  Hal ini terjadi karena kenaikan luas areal belum menghasilkan terkait dengan umur tanaman. Kenaikan umur tanaman belum menghasilkan ini selanjutnya secara biologis diikuti dengan meningkatnya kedewasaan tanaman yang pada gilirannya berkembang menjadi tanaman menghasilkan.

Kenaikan serapan tenaga kerja diperkirakan berhubungan positif dengan luas areal menghasilkan.  Hal ini terjadi karena kenaikan serapan tenaga kerja diikuti dengan kemampuan untuk menjangkau luasan tanaman menghasilkan, terutama untuk kegiatan panen atau eksploitasi tanaman menghasilkan.  Sedangkan kenaikan harga output, dalam jangka pendek, akan merangsang produsen untuk meningkatkan kegiatan panen atau eksploitasi tanaman menghasilkan.  Dalam jangka panjang, kenaikan harga output akan merangsang produsen untuk melakukan investasi yang selanjutnya akan meningkatkan luas areal menghasilkan.

3.3.2.   Impor Komoditas Perkebunan Indonesia dan Dunia

Walaupun Indonesia adalah negara produsen komoditas perkebunan, industri barang jadi yang berbahan baku komoditas perkebunan masih memerlukan impor komoditas sejenis dalam rangka proses pencampuran bahan baku untuk memenuhi standar mutu barang jadi atau alasan lain, seperti dalam rangka memenuhi kebutuhan domestik sebagai akibat lebih tingginya harga domestik dibandingkan harga impor.  Volume impor ini tidak berkembang pesat, tetapi perlu dikaji dalam rangka antisipasi diberlakukannya perdagangan bebas. 

Dalam penelitian ini, impor ini dilihat dalam konteks Indonesia sebagai peng­impor sehingga impor tersebut dapat diartikan sebagai permintaan impor komoditas perkebunan Indonesia. Permintaan impor ini diperkirakan tidak terlepas harga impor, nilai tukar, kebijakan perdagangan pemerintah tentang tarif dan pendapatan nasional.  Secara umum, fungsi permintaan impor komoditas perkebunan dirumuskan sebagai berikut:

.

            Volume impor   = f (harga impor, pendapatan nasional, nilai tukar dan kebijakan perdagangan)   (3.3)

.

Harga impor, kebijakan perdagangan berupa tarif impor dan depresiasi nilai tukar diperkirakan berpengaruh negatif terhadap volume impor.  Hal ini terjadi karena kenaikan harga impor dan tarif akan membatasi kemampuan negara pengimpor untuk mengimpor.  Sedangkan depresiasi menyebabkan harga barang impor secara relatif dinilai mahal sehingga permintaan impor turun.  Namun jika terjadi kenaikan pendapatan, maka permintaan impor akan meningkat.

Dalam penelitian ini, sistem perekonomian Indonesia dilihat dalam konteks perekonomian terbuka.  Implikasi dari pengertian ini adalah permintaan impor ko­moditas perkebunan Indonesia merupakan bagian kecil dari permintaan impor komo­ditas perkebunan dunia.  Permintaan impor komoditas perkebunan dunia didominasi oleh negara-negara Eropa Barat (Inggris dan Belanda), Amerika Serikat, negara-nega­ra Asia (Jepang dan Pakistan).  Permintaan impor komoditas perkebunan di negara-negara tersebut diperkirakan sebagai fungsi dari harga impor komoditas perkebunan, harga impor komoditas pesaing, nilai tukar, pendapatan nasional negara pengimpor dan kebijakan perdagangan.  Perbedaan fungsi permintaan impor negara-negara tersebut di atas dengan Indonesia terletak pada pengaruh harga komoditas substitusi.  Harga komoditas substitusi diperkirakan berpengaruh pada permintaan impor negara-negara tersebut di atas.

3.3.3.   Konsumsi Komoditas Perkebunan Indonesia

Konsumsi domestik komoditas perkebunan yang merupakan komoditas primer masih belum berkembang. Hal ini berkaitan dengan belum berkembangnya industri barang jadi, kecuali minyak goreng, di dalam negeri yang menggunakan bahan baku dari komoditas perkebunan.  Oleh karena itu, sebagian besar produksi komoditas perkebunan untuk memenuhi kebutuhan ekspor, hanya meninggalkan sebagian kecil untuk konsumsi. Dalam penelitian ini konsumsi domestik komoditas perkebunan dihipotesakan tergantung pada harga output dan pendapatan nasional.

            Konsumsi = f (harga output, pendapatan nasional)..................................... (3.4)

.

Kenaikan harga output diperkirakan berpengaruh negatif terhadap konsumsi komoditas perkebunan.  Hal ini terjadi karena kenaikan harga menyebabkan permintaan berkurang.  Sedangkan kenaikan pendapatan diperkirakan berpengaruh positif terhadap permintaan sehingga konsumsi komoditas perkebunan meningkat.

3.3.4.   Ekspor Komoditas Perkebunan Indonesia dan Dunia

Dalam perdagangan internasional komoditas perkebunan, Indonesia dikenal se­bagai salah satu negara pengekspor.  Dalam penelitian ini, ekspor tersebut diartikan seba­gai penawaran ekspor komoditas perkebunan Indonesia. Penawaran ekspor komoditas perkebunan dunia didominasi oleh negara-negara  berkembang, seperti Indonesia, Malaysia, Thailand, India, Brazil, dan Pantai Gading. Dalam penelitian ini, Indonesia sebagai negara pengekspor dibandingkan dengan ne­gara-negara Malaysia untuk karet dan minyak sawit, Thailand untuk karet, India un­tuk teh, Brazil untuk kopi, dan Pantai Gading untuk kakao.  Dalam penelitian ini, fungsi penawaran ekspor komoditas perkebunan diperkirakan dipengaruhi oleh harga ekspor, produksi dan nilai tukar.  Secara umum, fungsi penawaran ekspor komoditas perkebunan dirumuskan sebagai berikut:

            Volume ekspor = f (harga ekspor, produksi, nilai tukar)............................. (3.5)

.

Kenaikan harga ekspor dan produksi serta depresiasi nilai tukar rupiah diperkirakan berpengaruh positif terhadap volume ekspor.  Kenaikan harga ekspor menimbulkan rangsangan bagi pengekspor untuk meningkatkan volume ekspornya.  Kenaikan produksi menyebabkan pengekspor meningkatkan ekspornya karena pasar domestik mempunyai keterbatasan untuk menampung.  Sedangkan depresiasi nilai tukar di satu sisi menyebabkan harga ekspor komoditas perkebunan dinilai murah oleh pengimpor sehingga permintaan impor meningkat.  Kenaikan permintgaan impor ini akan dipenuhi dengan kenaikan ekspor.  Di sisi lain, depresiasi menyebabkan harga ekspor dalam Rupiah meningkat sehingga merangsang kenaikan produksi dan selanjutnya ekspor.  

3.3.5.   Integrasi Pasar

Pendekatan ekonomi mikro seperti diuraikan sebelumnya menggambarkan adanya hubungan antara pasar domestik dan internasional.  Kedua pasar tersebut ter­integrasi melalui hubungan harga, misal antara harga minyak sawit domestik dan harga internasional (harga ekspor, harga impor, dan harga dunia).  Harga dunia ko­moditas per­ke­bunan diperkirakan merupakan hasil interaksi antara jumlah impor dan ekspor dunia untuk komoditas perkebunan, harga komoditas pesaing dan harga komoditas perkebunan di pasar internasional lainnya. Secara umum, fungsi harga dunia dirumuskan sebagai berikut: 

            Harga dunia = f (volume ekspor dunia, volume impor dunia, harga komoditas substitusi dan harga internasional lain).................................................................................. (3.6)

.

            Harga internasional = f (harga dunia)......................................................... (3.7)

.

Volume ekspor dunia diperkirakan berpengaruh negatif terhadap harga dunia, sedangkan volume impor dunia, harga komoditas substitusi dan harga internasional lainnya diperkirakan berpengaruh positif.  Kenaikan ekspor dunia berpengaruh negatif karena kenaikan tersebut mengakibatkan adanya kelebihan (ekses) penawaran  sehingga harga turun.  Sebaliknya, kenaikan impor dunia berpengaruh positif karena kenaikan tersebut mengakibatkan terjadinya ekses permintaan sehingga harga naik.

Kenaikan harga komoditas substitusi menyebabkan pengimpor mengganti permintaan impor komoditas substitusi ke komoditas perkebunan yang dianalisis sehingga permintaan impor komoditas tersebut.  Selanjutnya kenaikan permintaan komoditas ini menyebabkan harga dunia komoditas perkebunan yang dianalisis naik.  Sedangkan kenaikan harga komoditas di pasar internasional lain akan meningkatkan harga karena diantara pasar dunia dan pasar internasional lain tersebut terjadi integrasi pasar secara horisontal.  Pengaruh integrasi harga ini juga berlaku sebaliknya sehingga kenaikan harga dunia juga akan menyebabkan kenaikan harga di pasar internasional lain. 

Harga ekspor komoditas perkebunan Indonesia diperkirakan ditentukan oleh harga dunia.  Hal ini terjadi karena adanya integrasi harga secara vertikal antara harga dunia dan harga ekspor.  Secara umum, fungsi harga ekspor dirumuskan sebagai berikut:

            Harga ekspor = f (harga dunia)................................................................. (3.8)

.

Sedangkan harga domestik komoditas perkebunan diperkirakan tergantung pada harga ekspor dan nilai tukar.  Secara umum, fungsi harga domestik komoditas perkebunan dirumuskan sebagai berikut:

            Harga domestik = f (harga ekspor, nilai tukar)........................................... (3.9)

.

Kenaikan harga ekspor diperkirakan berpengaruh positif terhadap harga ekspor.  Hal ini terjadi karena kenaikan harga ekspor menyebabkan kenaikan ekspor yang pada gilirannya mengurangi ketersediaan komoditas perkebunan di pasar domestik.  Kelangkaan komoditas perkebunan ini mengakibatkan terjadinya kenaikan harga domestik.  Selain itu, depresiasi juga diperkirakan berpengaruh positif terhadap harga domestik.  Hal ini terjadi karena depresiasi menimbulkan dampak psikologis kenaikan harga domestik berbagai komoditas, termasuk harga domestik komoditas perkebunan.

Untuk mengetahui hubungan harga antara pasar domestik dan internasional, maka hubungan harga dimaksud dirumuskan sebagai: P1 = a + b P2 + ...   …………… (3.10) Secara teoritis, apabila hubungan antara pasar domestik dan pasar internasional tidak terjadi atau terjadi segmentasi pasar, maka koefisien variabel harga yang berpengaruh (b) secara statistik bernilai nol.  Sebaliknya jika koefisien tersebut secara statistik berbeda dengan nol, maka kedua pasar terintegrasi.  Jika koefisien tersebut secara statistik positif, maka terdapat empat kemungkinan hubungan harga.   Jika b > 0, b = 1 dan a = 0, maka kedua harga secara statistik identik. Jika b > 0, b ≠ 1 dan a = 0, maka kedua harga berbeda dalam persentase tertentu.  Jika b > 0, b = 1 dan a ≠ 0, maka kedua harga berbeda dalam jumlah tertentu.  Akhirnya, jika b > 0, b ≠ 1 dan a ≠ 0, maka kedua harga berbeda secara persentase dan absolut.  Pada kedua kasus terakhir, jika (a/P2) bernilai kecil, maka kedua harga berbeda secara tetap.

3.4.      Kerangka Acuan Penerapan Teori Ekonomi Makro

Seperti telah disinggung sebelumnya, subsektor perkebunan adalah komponen dari sektor pertanian.  Subsektor perkebunan di Indonesia merupakan salah satu sub­sektor yang berperan dalam perekonomian nasional.  Dengan pengertian ini, peran subsektor perkebunan dan keterkaitannya dengan perekonomian nasional akan disaji­kan berikut ini.

3.4.1.   Nilai Tambah dan Pendapatan Domestik Bruto

Dalam penelitian ini, Pendapatan Domestik Bruto (PDB) diasumsikan terdiri dari nilai tambah subsektor perkebunan dan subsektor non perkebunan. Nilai tambah komodi­tas perkebunan terdiri dari nilai tambah komoditas utama perkebunan dan komoditas perkebunan lainnya. Nilai tambah komoditas utama perkebunan ini ditentukan oleh dua  faktor, yaitu produksi dan harga domestik.  Kenaikan produksi dan harga domestik komoditas perkebunan diperkirakan berpengaruh positif terhadap nilai tambah.  Secara umum, fungsi nilai tambah dirumuskan sebagai berikut:

            Nilai tambah = f (produksi, harga output)................................................ (3.11)

3.4.2.   Serapan Tenaga Kerja

Seperti diketahui, Indonesia secara umum merupakan negara yang mengalami surplus tenaga kerja.  Tenaga kerja tersebut bekerja di subsektor perkebunan dan di sektor non pertanian. Tenaga kerja di subsektor perkebunan sendiri dibedakan antara di perkebunan komoditas utama  dan di perkebunan komoditas lainnya.

Walaupun secara total ada indikasi surplus, tenaga kerja merupakan kendala dalam memenuhi kebutuhan tenaga kerja di daerah perkebunan. Selain populasi pen­duduk di daerah perkebunan umumnya rendah, penggunaan (serapan) tenaga kerja di perkebunan dihadapkan pada persaingan kebutuhan tenaga kerja di sub sektor lain.  Oleh karena itu, tingkat upah (riel) diperkirakan sebagai salah satu faktor penentu penggunaan tenaga kerja di perkebunan, disamping luas areal pertanaman dan kebijakan pemerintah.  Secara umum, fungsi serapan tenaga kerja dirumuskan sebagai berikut:

            Serapan tenaga kerja = f (luas areal tanam, upah, pengeluaran pemerintah, kebijakan pembangunan perkebunan)................................................................... (3.12)

.

Kenaikan luas areal tanam, pengeluaran pembangunan dan kebijakan pembangunan perkebunan diperkirakan akan berpengaruh positif, sedangkan upah tenaga kerja diperkirakan berpengaruh negatif terhadap serapan tenaga kerja di subsektor perkebunan.  Kenaikan luas areal tanam memerlukan dukungan tenaga kerja untuk berbagai kegiatan teknis, sehingga serapan tenaga kerja meningkat.  Pengeluaran pembangunan di daerah perkebunan pada umumnya untuk pengembangan infrastruktur.  Oleh karena itu, mobilitas tenaga kerja menjadi meningkat dan sebagian diantaranya terserap di subsektor perkebunan. 

Kebijakan pembangunan perkebunan diantaranya dilakukan dengan membuka areal-areal baru untuk usaha perkebunan.  Perluasan areal ini membuka kesempatan kerja baru di subsektor perkebunan.  Oleh karena itu, serapan tenaga kerja diperkirakan akan lebih tinggi pada saat diterapkannya kebijakan pembangunan perkebunan. Selanjutnya, kenaikan upah diperkirakan mengurangi kemampuan produsen sebagai pelaku usaha untuk menyerap tenaga kerja.

3.4.3.   Neraca Perdagangan

Ekspor dan impor merupakan dua komponen yang menentukan neraca perda­gangan suatu negara.  Neraca perdagangan komoditas perkebunan merupakan hasil bersih dari aktivitas ekspor dan impor subsektor perkebunan.   Subsektor perkebunan me­rupakan salah satu subsektor penghasil komoditas ekspor, tetapi juga menampung impor.  Produksi komoditas perkebunan sebagian besar ditujukan untuk pasar luar negeri.  Nilai ekspor  dan impor komoditas perkebunan Indonesia hanya dilihat dari nilai ekspor dan impor komoditas utama perkebunan.

3.4.4.   Penerimaan dan Pengeluaran Pemerintah

Selain dalam kaitan ekspor dan impor, penelitian ini juga memperhatikan pe­ranan subsektor perkebunan dalam kaitannya dengan keuangan (penerimaan dan pengeluaran) pemerintah. Seperti diketahui, subsektor perkebunan menghasilkan pa­jak sebagai peneri­maan pemerintah.  Pemerintah juga membelanjakan pendapatannya untuk keperluan subsektor perkebunan.

Dalam sistem keuangan Indonesia, penerimaan pemerintah terdiri atas peneri­maan domestik dan hutang.  Penerimaan domestik bersumber dari penerimaan yang berasal dari minyak dan non minyak.  Penerimaan non minyak terdiri atas pene­rimaan pajak penghasilan, pajak pertambahan nilai, dan pajak ekspor dan penerimaan bukan pajak. Dalam penelitian ini, subsektor perkebunan dilihat peranannya dalam memberikan kinerja dalam penerimaan pajak melalui pajak pertambahan nilai, pajak ekspor, dan pajak impor. Pada sisi pengeluaran, pemerintah membedakan antara pengeluaran rutin, pem­bangunan, dan pembayaran hutang.  Pengeluaran pembangunan ini diperkirakan akan mempengaruhi aktivitas subsek­tor/sektor yang dibangun.

3.5.      Keterkaitan Ekonomi Mikro dan Makro

Pendekatan ekonomi mikro dan makro seperti diuraikan di atas menunjukkan adanya keterkaitan antara keduanya.  Keterkaitan tersebut dapat terjadi melalui variabel endogen.  Keterkaitan melalui variabel endogen dapat dilihat antara produksi (aspek ekonomi mikro) berkaitan dengan nilai tambah (aspek ekonomi makro), areal tanaman dengan serapan tenaga kerja dan produksi dengan ekspor, serta produksi dan ekspor dengan harga, disamping adanya keterkaitan antar harga.

3.6.      Kerangka Acuan Analisis Indikator Kinerja Subsektor Perkebunan

Keterkaitan subsektor perkebunan dan perekonomian melalui blok-blok pro­duksi, tenaga kerja, neraca perdagangan, keuangan, dan harga secara simultan akan menentukan tingkat kinerja subsektor perkebunan.  Analisis indikator kinerja sub­sektor perkebunan dilakukan dengan melihat arah perubahan nilai rata-rata indikator kinerja sebagai akibat adanya perubahan kebijakan dan/atau non kebijakan pada periode waktu tertentu, baik dalam konteks evaluasi maupun  peramalan.  Perubahan tersebut dilihat dengan memban­dingkan nilai rata-rata situasi tanpa perubahan (basis) terhadap situasi dengan adanya perubahan kebijakan dan non kebijakan (skenario).  Secara matematis, analisis kinerja tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut :

.

             .................................................. (3.13)

dimana :

                       = perubahan indikator kinerja

               = nilai indikator kinerja rata-rata tanpa perubahan kebijakan atau non kebijakan

          = nilai indikator kinerja rata-rata dengan perubahan kebijakan atau non kebijakan sesuai skenario

.

Indikator kinerja dimaksud sesuai dengan yang telah disampaikan pada Bab I.  Penjelasan indikator kinerja secara rinci akan diuraikan sebagai berikut :

3.6.1.   Nilai Tambah dan Pangsa Nilai Tambah

Dalam blok produksi, mengacu pada pemikiran Widodo (1990), indikator kinerja subsektor perkebunan meliputi nilai tambah dan rasio antara nilai tambah subsektor perkebunan terhadap PDB.  Kinerja subsektor dalam kaitannya dengan nilai tambah dirumuskan sebagai berikut:

Nilai tambah subsektor perkebunan = nilai tambah teh + nilai tambah kopi + nilai tambah kakao + nilai tambah karet + nilai tambah minyak kelapa sawit + nilai tambah komoditas lainnya         (3.14)

.

Pangsa nilai tambah subsektor perkebunan terhadap pendapatan nasional = (nilai tambah subsektor perkebunan : pendapatan nasional) x 100%......................................... (3.15)

.

3.6.2.   Serapan, Pangsa Serapan dan Indeks Produktivitas Tenaga Kerja

Dalam konteks ekonomi makro, penyerapan tenaga kerja subsektor perkebunan berperan penting dalam perekonomian nasional.  Mengacu pada penjelasan Widodo (1990), kepentingan tersebut dapat dilihat dengan menghitung kinerja subsektor perke­bun­an dalam penyerapan tenaga kerja nasional sebagai rasio antara jumlah tenaga kerja yang bekerja di subsektor perkebunan terhadap angkatan kerja yang bekerja di semua sektor.  Kinerja subsektor perkebunan dalam kaitannya dengan serapan tenaga kerja dapat dirumuskan sebagai berikut:

            Serapan tenaga kerja subsektor perkebunan = serapan tenaga kerja di perkebunan teh + serapan tenaga kerja di perkebunan kopi + serapan tenaga kerja di perkebunan kakao + serapan tenaga kerja di perkebunan karet + serapan tenaga kerja di perkebunan kelapa sawit + serapan tenaga kerja di perkebunan lainnya..................................................... (3.16)

           

            Pangsa serapan tenaga kerja terhadap serapan tenaga kerja nasional = (serapan tenaga kerja subsektor perkebunan/serapan tenaga kerja nasional) x 100%......... (3.17)

.

            Indeks produktivitas tenaga kerja di subsektor perkebunan = (nilai tambah subsektor perkebunan : serapan tenaga kerja nasional)..................................................... (3.18)  

3.6.3.   Neraca Perdagangan, Nilai Ekspor, Nilai Impor dan Rasio Perdagangan

Dalam blok perdagangan dianalisis tentang neraca perdagangan, nilai ekspor, nilai impor, rasio nilai ekspor komoditas perkebunan terhadap PDB dan rasio perdagangan internasional.  Mengacu pada pemikiran Widodo (1990), rasio perdagangan internasional ini didefinisikan sebagai rasio antara selisih nilai ekspor dan impor komoditas perkebunan terhadap jumlah ekspor dan impor komoditas perkebunan.  Indikator ini untuk menilai apakah neraca perdagangan komoditas perkebunan dikuasai ekspor (nilai  1) atau impor (nilai  -1).  Indikator kinerja subsektor perkebunan yang berkaitan dengan perdagangan ini dirumuskan sebagai berikut:

            Nilai ekspor komoditas perkebunan = nilai ekspor teh + nilai ekspor kopi + nilai ekspor kakao + nilai ekspor karet + nilai ekspor minyak kelapa sawit + nilai ekspor komoditas perkebunan lainnya   (3.19)

.

            Nilai impor komoditas perkebunan = nilai impor teh + nilai impor kopi + nilai impor kakao + nilai impor karet + nilai impor minyak kelapa sawit + nilai impor komoditas perkebunan lainnya   (3.20)

.

            Pangsa nilai ekspor subsektor perkebunan terhadap nilai ekspor non migas = (nilai ekspor komoditas perkebunan : nilai ekspor non migas) x 100%.................. (3.21)

.

            Neraca perdagangan = (nilai ekspor subsektor perkebunan – nilai impor subsektor perkebunan)            (3.22)

.

            Rasio perdagangan = {(nilai ekspor subsektor perkebunan – nilai impor subsektor perkebunan) : (nilai ekspor subsektor perkebunan + nilai impor subsektor perkebunan) (3.23)

3.6.4.   Penerimaan dan Pangsa Penerimaan Pajak

Dalam blok keuangan, analisis dilakukan dengan menghitung rasio peneri­maan pajak terhadap penerimaan domestik. Rasio ini untuk me­ngetahui apakah perubahan ke­bi­jakan dan non kebijakan yang terjadi di sub­sektor perkebunan berpengaruh terhadap pe­nerimaan domestik. Seperti penjelasan Widodo (1990), rasio ini dapat berfungsi seba­gai indikator pemicu pertumbuhan ekonomi. Indikator kinerja subsektor perkebunan yang berkaitan dengan pajak ini dirumuskan sebagai berikut:

            Penerimaan pajak subsektor perkebunan = penerimaan pajak pertambahan nilai + penerimaan pajak impor + penerimaan pajak ekspor................................................ (3.24)

.

            Pangsa penerimaan pajak subsektor perkebunan terhadap penerimaan domestik = (penerimaan pajak subsektor perkebunan: penerimaan domestik) x 100%.... (3.25)

3.7.      Spesifikasi Model

Kelima jenis komoditas utama perkebunan merupakan komoditas yang diperdagangkan di pasar internasional.  Oleh karena itu, keterkaitan pasar internasional dan pasar domestik dapat dilihat dengan membangun suatu model simultan.  Dalam konteks domestik ini, model tersebut diperluas untuk mencakup berbagai variabel yang relevan dan dikelompokkan ke dalam beberapa blok perekonomian.

Dalam kaitannya dengan bentuk model, salah satu hal yang menentukan adalah fenomena yang terjadi pada hubungan ekonomi antara variabel terpengaruh dan variabel berpengaruh di subsektor perkebunan. Pada umumnya, fenomena yang dihadapi perekonomian subsektor perkebunan berkaitan erat dengan waktu.  Untuk menangkap ketergantungan model ter­hadap waktu, maka model yang disusun merupakan model dinamis.  Hal ini me­ngandung arti bahwa perubahan yang terjadi pada model tidak berlangsung seketika, tetapi membutuhkan waktu untuk penyesuaian, seperti dijelaskan oleh Doran dan Guise (1984).  Dengan pengertian ini, maka model yang disusun akan mencakup lag dari variabel endogen, selain variabel penjelas lainnya.

Namun demikian, bentuk model juga ditentukan oleh kesederhanaan persamaan dan goodness of fit dari persamaan.  Dalam hal kedua kriteria tersebut tidak terpenuhi dalam model dinamis, maka bentuk fungsi statis, yaitu tanpa memasukkan lag dari variabel endogen, digunakan untuk membangun model. Sedangkan untuk tujuan simulasi, maka model dinamis dan statis tersebut juga mencakup variabel penjelas eksogen, selain variabel endogen.   Dengan spesifikasi model seperti diuraikan di atas, maka model yang dibangun telah mampu menjawab tujuan penelitian.

Bentuk fungsi dari model dinamis tersebut diantaranya meliputi bentuk persamaan penyesuaian parsial (Partial Adjustment Model), per­samaan ekspektasi rasional (Adaptive Expectation Model), dan bentuk gabungan ke­duanya (Partial - Adaptive Expectation Model).  Ketiga  bentuk persamaan tersebut dapat diikuti dalam berbagai pustaka ekonometrika, diantaranya yang disusun oleh Koutsoyiannis (1977), Doran dan Guise (1984), University of New England (1989), dan Gujarati (1995).  Bentuk umum dari ketiga persamaan tersebut akan disajikan sebagai berikut:

1.         Persamaan Penyesuaian Parsial (Partial Adjustment Model)

           

            Y= αδ + (1-δ) Y(t-1) + βδ Pt + μt................................................. (3.27a) atau

            Yt = αδ + β1δ P(t-1) + β2δ Zt + (1-δ) Yt-1 + μt........................................ (3.27b)

 

2.         Persamaan Rasional Ekspektasi (Adaptive Expectation Model)

.

            Yt  = αγ + (1-γ) Y(t-1) + βγ P(t-1) + vt ............................................. (3.28a) atau

            Yt =  αγ + β1γ P(t-1) + β2 Zt – β2(1- γ) Z(t-1) + (1- γ) Y(t-1) +

                     μt – (1- γ) μ(t-1) .......................................................................... (3.28b)

 

3.         Persamaan Gabungan Penyesuaian Parsial dan Ekspektasi Rasional (Combined Partial Adjustment and Adaptive Expectation)

           

            Yt = αγδ + βγδP(t-1) + {(1- γ) + (1-δ)}Y(t-1) - (1- γ) (1-δ)Y(t-2) + vt  ....  (3.29a)

            atau  Yt = α0 + α1Pt + α2Y(t-1) + α3Y(t-2) ..............................................  (3.29b)

.

dimana:

.

Yt                             =  variabel terpengaruh, misal produksi tahun-t

Y(t-1)                       = produksi tahun-(t-1)

Y(t-2)                       = produksi tahun-(t-2)

Pt                              =  variabel penjelas, misal harga produk tahun-t

P(t-1)                       =  harga produk tahun-(t-1)

Zt                              =  variabel penjelas lain, misal upah tahun-t

Zt                              =  upah tahun-(t-2)

α, β, γ, δ                   =  parameter estimasi

μt, vt                         = galat baku (error terms)

.

Menurut Doran dan Guise (1984) bentuk penyesuaian parsial mengindikasikan bahwa jika terjadi perubahan pada variabel penjelas, misal harga yang berlaku, maka perubahan variabel yang terpengaruh, misal produktivitas, dari tingkat aktual ke tingkat produktivitas yang diharapkan (diperkirakan) memerlukan waktu penyesuaian. Pada bentuk persamaan ini, perubahan harga aktual menentukan produktivitas. Pada persamaan rasional ekspektasi, perubahan produktivitas tersebut akan ditentukan oleh  harga yang diharapkan (berdasarkan harga aktual tahun lalu).  Pada bentuk persamaan ini, harga tahun lalu, sebagai proksi harga yang diperkirakan, menentukan perubahan produktivitas.  Pada bentuk gabungan, pada dasarnya menunjuk pada pengertian harga yang diharapkan menentukan produktivitas yang diharapkan.

3.8.      Analisis Kebijakan dan Non Kebijakan

Perkembangan subsektor perkebunan terkait dengan perubahan-perubahan lingkungan, seperti kebijakan pemerintah (government policies). Perkembangan sub­sektor perkebunan diartikan sebagai agregasi dari perubahan industri komoditas per­ke­bunan. Oleh karena itu, analisis pengaruh kebijakan dapat dilihat hanya pada indus­tri komoditas perkebunan.  Analisis kebijakan pemerintah dilakukan terhadap perubahan kebijakan produksi, pajak impor, pajak ekspor dan pajak pertambah­an nilai.  Sedangkan perubahan non kebijakan adalah perubahan nilai tukar Rupiah.

.

IV.     PROSEDUR ESTIMASI DAN SIMULASI

4.1.      Identifikasi Model

Suatu persamaan dalam model persamaan simultan dapat diduga parameternya apabila persamaan dalam model tersebut dapat diidentifikasi. Persamaan dalam mo­del persamaan simultan dapat diidentifikasi melalui dua cara, yaitu pengujian terha­dap persamaan struktural dan terhadap persamaan reduksi.  Pengujian yang pertama di­sebut order condition, sedangkan yang kedua disebut rank condition (Gujarati, 1996 dan Koutsoyiannis, 1977).  Dalam penelitian, metode pengujian yang digunakan adalah order condition karena sifatnya yang lebih sederhana.

4.2.      Metode Estimasi

Berdasarkan hasil identifikasi model di atas, maka metode estimasi yang diterapkan adalah metode 2 SLS.  Metode ini telah banyak diterapkan pada berbagai pe­ne­litian yang menggunakan model persamaan simultan karena sifatnya yang konsisten, efisien, dan memberikan hasil yang robust.  Metode ini diterima sebagai pendekatan per­sa­maan tunggal yang telah umum digunakan untuk menduga model yang overidentified.

Dengan menggunakan teknik estimasi Two Stage Least Square (2 SLS), bebe­rapa per­samaan diduga dengan menerapkan restriksi cukup ketat, yaitu dengan meng­abaikan pe­nga­ruh intersep. Dengan cara ini, pengaruh variabel-variabel yang bersifat kon­stan didistri­busi­kan ke variabel berpengaruh lainnya, termasuk ke variabel pengganggu (error term). Selain itu, beberapa variabel berpengaruh merupakan variabel baru sebagai hasil manuver matematis dari beberapa variabel yang sebelumnya diperkirakan berpe­ngaruh.  Manuver ini dilakukan untuk mengindari terjadinya masalah multikolinier, disamping untuk menemukan variabel yang relevan.

 Beberapa persamaan, yaitu produktivitas dan luas areal menghasilkan kopi arabika dan kelapa sawit rakyat pada blok produksi; serapan tenaga kerja perkebunan kelapa sawit rakyat; volume impor kopi, kakao, karet dan minyak sawit Indonesia pada blok perdagangan; dan harga impor teh, kopi, kakao, karet dan minyak sawit Indonesia meru­pakan hasil estimasi tersendiri dengan menggunakan teknik estimasi Ordi­nary Least Square (OLS).  Estimasi ini dilakukan karena adanya keter­batasan data karena data serial dimulai beberapa tahun setelah tahun 1969. Hasil estimasi persamaan-persamaan tersebut kemudian digabung dengan hasil estimasi dengan metode 2 SLS dalam sistem per­samaan simultan non-linier.

4.3.      Jenis dan Sumber Data

Penelitian ini menggunakan data sekunder berskala nasional dan internasional yang bersumber dari berbagai terbitan, seperti Direktorat Jenderal Bina Produksi Perkebunan, Badan Pusat Statistik, Bank Indonesia, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, International Monetary Fund, International Tea Committee, International Coffee Organization, International Cocoa Organization, International Rubber Study Group, dan ISTA Mielke GmbH..  Data yang digunakan adalah data tahun 1969 sampai tahun 2000.  Data nilai nominal dalam penelitian ini semuanya diubah dalam bentuk nilai riil dengan menggunakan berbagai indeks harga yang sesuai dengan data nominal yang digunakan.

4.4.      Pengujian Statistik

Nilai-nilai parameter hasil estimasi dalam penelitian ini yang dicantumkan adalah nilai F, R2, DW dan t.  Khusus untuk t statitik diuji dengan menggunakan notasi dan kriteria statistik sebagai berikut:

a jika α ≤ 10%

b jika 10% < α ≤ 20%

c jika 10% < α ≤ 30%

4.5.      Validasi

Dalam penelitian ini validasi dilakukan dengan menggunakan perbandingan nilai aktual dan prediksi, ukuran dari Root Mean Square Percentage Error (RMSPE), dan U Theil.  Nilai RMSPE dan U Theil dilihat secara sistem dan diperhitungkan secara proporsional menurut ukurannya.  Pada dasarnya semakin kecil ukuran RMSPE dan U Theil, maka semakin baik prediksi model.  Nilai RMSPE diharapkan lebih banyak di bawah 30 persen, sedangkan nilai U Theil di bawah 0.3.  

4.6.      Simulasi

Analisis simulasi diterapkan pada model ditujukan untuk mengetahui dampak peru­bahan variabel eksogen terhadap variabel endogen.  Selain tujuan tersebut, simu­lasi juga dapat digunakan untuk melakukan pengujian dan evaluasi model dan untuk tujuan peramalan (Pindyck dan Rubinfeld, 1987). Teknik penerapan simulasi ini dapat mengambil selang wak­tu tertentu untuk mengetahui perilaku model bila suatu kebijakan diterapkan (Labys, 1973).  Dengan pemahaman atas pengertian di atas, teknik simulasi historis dan peramalan diterapkan untuk mengevaluasi kinerja sub­sektor perkebunan dalam perekonomian.  Periode simulasi historis adalah tahun 1994 hingga tahun 1998, sedangkan simulasi peramalan dilakukan antara tahun 2003 hingga tahun 2008.

4.6.1.   Simulasi Historis (1994-1998)

Permulaan periode simulasi tahun 1994 didasarkan pada pertimbangan bahwa mulai tahun tersebut sekuen-sekuen kebijakan sektoral perkebunan terutama kebijakan pembangunan perkebunan melalui berbagai pola-pola pengembangan telah ditiadakan.  Kebijakan sektoral yang ada lebih bersifat pembinaan teknis, bukan berupa pengembangan fisik dan bantuan finansial kebun dalam bentuk proyek-proyek pengembangan perkebunan.  Pada periode 1994-1998, subsektor perkebunan dapat dikatakan berada dalam situasi minimum intervensi langsung yang bersifat insentif dalam bidang produksi.  Kebijakan yang ada lebih bersifat disinsentif, seperti penerapan pajak pertambahan nilai dan pajak ekspor. Bahkan pada periode tersebut, subsektor perkebunan juga telah masuk dalam situasi krisis ekonomi yang dicerminkan oleh adanya depresiasi nilai tukar rupiah. Selain itu, pada periode tersebut perkembangan krisis ekonomi menjadi krisis sosial dalam bentuk konflik penguasaan lahan dan kebun juga telah terjadi.  Akhir periode simulasi tahun 1998 dianggap sebagai waktu yang diperkirakan cukup untuk melihat dampak perubahan kebijakan dan krisis sosial ekonomi yang berkembang di masyarakat.  Disamping itu, tahun tersebut merupakan batas waktu ketersediaan data yang bersifat stabil.

4.6.2.   Simulasi Peramalan (2003-2008)

Pada simulasi peramalan, penetapan periode tahun 2003-2008 di atas didasarkan pada pertimbangan untuk penilaian dampak penerapan kebijakan dan non kebijakan terhadap kinerja subsektor perkebunan pada masa yang akan datang.  Sebagai contoh, perdagangan bebas sesuai kesepakatan Putaran Uruguay negara maju terjadi pada tahun 2001 dan bagi negara berkembang tahun 2006.  Dengan maksud menduga dampak perdagangan bebas, maka periode peramalan ditetapkan antara tahun 2003 hingga 2008, yaitu dua tahun setelah terjadinya perdagangan bebas negara maju dan dua tahun setelah terjadinya perdagangan bebas negara berkembang.

Selain itu, periode tersebut merupakan periode yang diperkirakan cukup tepat untuk mengusulkan reformasi kebijakan di subsektor perkebunan dan memperhitungkan perubahan-perubahan faktor non kebijakan, seperti depresiasi nilai tukar.  Dengan demikian, periode peramalan di atas diharapkan dapat memberi gambaran kinerja subsektor perkebunan dengan adanya perdagangan bebas dunia dan perubahan-perubahan lain pada faktor kebijakan, seperti perubahan pada kebijakan pajak pertambahan nilai, upah tenaga kerja dan harga pupuk, dan pada faktor non kebijakan, seperti depresiasi nilai tukar .

4.7.      Skenario Simulasi Historis (1994-1998) dan Peramalan (2003-2008)

Sesuai dengan tujuan penelitian, simulasi historis (1994-1998) dan peramalan (2003-2008) akan disusun dalam beberapa skenario tunggal dan gabungan dari beberapa faktor kebijakan dan non kebijakan.  Skenario dimaksud merupakan skenario yang paling mungkin dilakukan dan dihadapi pemerintah. Khusus untuk skenario gabungan, penyusunannya didasarkan pada asumsi bahwa perdagangan bebas akan diberlakukan sehingga pada setiap skenario gabungan terdapat skenario pemberlakuan perdagangan bebas.  Bebera­pa skenario simulasi historis (1994-1998) dan peramalan (2003-2008) yang akan diterapkan dalam penelitian ini adalah:

1.      Skenario 1 (simulasi historis) atau Skenario 11 (simulasi peramalan), yaitu pemerintah tetap menerapkan kebijakan pembangunan perkebunan.

2.      Skenario 2 (simulasi historis) atau Skenario 12 (simulasi peramalan),  yaitu pemerintah menurunkan pajak pertambahan nilai sebesar 50 persen

3.      Skenario 3 (simulasi historis) atau Skenario 13 (simulasi peramalan), yaitu perdagangan bebas dunia untuk komoditas perkebunan diberlakukan (tarif impor dan pajak ekspor komoditas perkebunan negara berkembang turun sebesar 24 persen dan tarif impor komoditas perkebunan negara maju turun sebesar 40 persen).

4.      Skenario 4 (simulasi historis) atau Skenario 14 (simulasi peramalan), yaitu gabungan Skenario 1, 2 dan 3.

5.      Skenario 5 (simulasi historis) atau Skenario 15 (simulasi peramalan), yaitu nilai tukar Rupiah terhadap US$ mengalami depresiasi sebesar 10 persen

6.      Skenario 6 (simulasi historis) atau Skenario 16 (simulasi peramalan), yaitu gabungan Skenario 1, 3 dan 5.

7.      Skenario 7 (simulasi historis) atau Skenario 17 (simulasi peramalan), yaitu gabungan Skenario 2, 3 dan 5.

8.      Skenario 8 (simulasi historis) atau Skenario 18 (simulasi peramalan), yaitu upah di perkebunan mengalami kenaikan 10 persen.

9.      Skenario 9 (simulasi historis) atau Skenario 19 (simulasi peramalan), yaitu harga pupuk sebesar 10 persen.

10.    Skenario 10 (simulasi historis) atau Skenario 20 (simulasi peramalan), yaitu gabungan Skenario 3, 8 dan 9.

 

V.      HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1.      Hasil Umum Estimasi Model

Model subsektor perkebunan yang terdiri dari 181 persamaan telah berhasil dibangun dalam rangka evaluasi dan peramalan kinerja subsektor perkebunan. Model yang dibangun menggambarkan adanya keterkaitan antar blok produksi dan konsumsi, tenaga kerja, perdagangan, harga dan indikator kinerja subsektor perkebunan. Secara umum hasil estimasi model menunjukkan bahwa persamaaan-persamaan dalam model pada umumnya telah sesuai dengan pertimbangan-pertimbangan ekonomi dan statistik sehingga model dimaksud mampu menggambarkan fenomena yang  berkaitan dengan subsektor perkebunan di dunia nyata. 

Ciri umum dari perilaku variabel yang dijelaskan pada persamaan-persamaan yang terdapat dalam berbagai blok model subsektor perkebunan ini adalah bersifat dinamis dan tidak elastis, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang, terhadap perubahan yang terjadi pada variabel penjelasnya.  Selain itu, perubahan variabel endogen karena perubahan teknologi dan atau kelembagaan dan atau kondisi ekonomi pada model subsektor perkebunan beragam sifatnya karena ukuran koefisien penyesuaian atau ekspektasi yang terletak di atas atau di bawah 0.5. Khusus tentang hubungan harga, perubahan harga internasional pada umumnya tidak ditransmisikan ke harga ekspor, impor dan domestik secara penuh dan respon harga terhadap perubahan pada umumnya berjalan relatif lambat.  Harga dunia juga tidak bersifat fleksibel terhadap perubahan volume ekspor dan/atau impor komoditas perkebunan dunia.

Beberapa persamaan mempunyai tanda atau bentuk fungsi yang tidak sesuai dengan yang diharapkan, tetapi tetap menjadi pilihan karena dianggap sebagai hasil estimasi yang terbaik berdasarkan pertimbangan statistik dan empiris. Empat persamaan, yaitu produktivitas perkebunan kelapa sawit negara (ACPON), serapan tenaga kerja di perkebunan rakyat (EMTER) dan swasta (EMTES) mempunyai variabel penjelas D1 dengan koefisien yang bertanda negatif.  Dua persamaan, yaitu perkebunan kopi robusta negara (ACORN) dan volume impor karet Amerika Serikat (QMRUUS) diestimasi tanpa menggunakan intersep. 

Empat belas persamaan, yaitu produktivitas perkebunan kopi rakyat (ACORR), negara (ACORN) dan swasta (ACORS), produktivitas perkebunan kakao negara (ACAN) dan swasta (ACAS), produktivitas perkebunan karet rakyat (ARUR) dan swasta (ARUS), serapan tenaga kerja di perkebunan karet rakyat (EMRUR) dan swasta (EMRUS), serapan tenaga kerja di perkebunan kelapa sawit negara (EMOPN), volume impor kopi (QMCO), kakao (QMCA), karet (QMRU) dan minyak sawit (QMCPO) diestimasi dengan mereduksi satu atau dua variabel penjelas yang diharapkan berpengaruh.

Koefisien determinasi (R2) persamaan-persamaan dalam model pada umumnya cukup tinggi.  Hanya 16 persamaan dari 114 persamaan mempunyai nilai R2 dibawah 60 persen. Hanya sebagian kecil persamaan mengindikasikan adanya gejala korelasi serial  sehingga masalah korelasi serial dapat dianggap tidak serius dalam model keseluruhan.  Pyndyck dan Rubinfelds (1991) menyatakan bahwa korelasi serial hanya mengurangi efisiensi estimasi parameter dan tidak bias parameter regresi.  Dalam beberapa penelitian terdahulu, masalah korelasi serial ini juga dijumpai.

Nilai statistik F dalam model umumnya nyata secara statistik.  Hal ini berarti variabel-variabel penjelas secara bersama-sama mampu men­jelaskan ke­ragaman variabel endogen.  Sedangkan untuk variabel penjelas secara individual, hasil penelitian menun­jukkan adanya nilai t statistik yang beragam tingkat signifikansinya, beberapa diantaranya kurang memuaskan. 

5.2.      Validasi Model

Seperti telah dijelaskan sebelumnya, validasi model diperlukan untuk mengetahui sejauh mana model dapat digunakan untuk peramalan yang sesuai dengan fenomena.  Validasi model dipilih waktu akhir dari fenomena yang diamati, yaitu antara tahun 1994 hingga 1998.  Hasil validasi menunjukkan bahwa 37. 57 persen nilai RMSPE dibawah 10 persen, 13.26 persen nilai RMSPE dibawah 20 persen dan 8.84 persen nilai RMSPE dibawah 30 persen.  Sebagian besar variabel dengan nilai RMSPE di atas 30 persen merupakan variabel dari persamaan identitas/definisi.  Sedangkan nilai U Theil di bawah 0.1 meliputi 50.83 persen, di bawah 0.2 meliputi 26.52 persen dan di bawah 0.3 meliputi 11.60 persen dari keseluruhan variabel. Hasil validasi ini menunjukkan bahwa model dapat digunakan untuk simulasi historis dan peramalan.

5.3.      Analisis Kinerja Subsektor Perkebunan

Seperti telah disinggung sebelumnya, kinerja subsektor perkebunan dipengaruhi oleh berbagai faktor kebijakan dan non kebijakan.  Pada sub bab ini, dampak perubahan berbagai kebijakan dan non kebijakan yang disusun dalam 10 skenario simulasi historis  1994-1998 terhadap kinerja subsektor perkebunan dianalisis.  Analisis yang dilakukan terhadap hasil simulasi historis tahun 1994-1998 ini merupakan bentuk analisis yang berfungsi untuk mengevaluasi kinerja subsektor perkebunan pada masa lalu. Sedangkan analisis yang dilakukan terhadap hasil simulasi peramalan tahun 2003-2008 merupakan bentuk analisis yang berfungsi untuk melihat prospek kinerja subsektor perkebunan ke depan. 

Pada analisis kinerja subsektor perkebunan, perubahan yang terjadi sangat tergantung dari mekanisme perubahan karena adanya perubahan kebijakan dan/atau non kebijakan secara simultan.  Sesuai dengan model yang berhasil dibangun, beberapa variabel yang secara langsung dipengaruhi oleh perubahan variabel kebijakan dan/atau non kebijakan dapat diikuti sebagai berikut:

1.      Variabel produktivitas dan serapan tenaga kerja dipengaruhi secara langsung oleh perubahan kebijakan pembangunan perkebunan dan upah tenaga kerja.

2.      Variabel harga domestik, produktivitas, konsumsi domestik, nilai tambah dan penerimaan pajak pertambahan nilai dipengaruhi secara langsung oleh perubahan kebijakan penurunan pajak pertambahan nilai.

3.      Variabel volume impor, harga impor, nilai pajak impor, volume ekspor, harga ekspor dan nilai pajak ekspor dipengaruhi secara langsung oleh perubahan kebijakan tarif impor dan pajak ekspor.

4.      Variabel harga domestik, volume ekspor dan impor dipengaruhi secara langsung oleh perubahan nilai tukar Rupiah terhadap $ Amerika Serikat.

5.      Variabel produktivitas juga dipengaruhi secara langsung oleh perubahan kebijakan harga pupuk.

Sedangkan ukuran perubahan sangat ditentukan oleh nilai elastisitas variabel penjelas dalam persamaan.  Melalui mekanisme perubahan secara simultan, suatu variabel yang berfungsi sebagai variabel penjelas dengan nilai elastisitas lebih tinggi akan lebih menentukan ukuran perubahan variabel yang terpengaruh.  Dengan pertimbangan efisiensi, maka ukuran perubahan suatu variabel tidak secara eksplisit dibahas menurut besarnya nilai elastisitas.  Selanjutnya, analisis dampak berbagai skenario simulasi historis dan peramalan terhadap kinerja subsektor perkebunan tersebut disajikan berikut ini.

Secara umum, seperti terlihat pada Tabel 1 dan 2, hasil simulasi historis dan peramalan berbagai alternatif kebijakan dalam 10 skenario menunjukkan adanya perubahan-perubahan indikator kinerja dibandingkan kondisi basis. Arah perubahan-perubahan dimaksud dapat dijelaskan dengan menggunakan model subsektor perkebunan yang dibangun. Pada umumnya, dua belas indikator kinerja subsektor perkebunan menunjukkan indikasi adanya perbaikan.  Namun demikian terdapat beberapa skenario yang berdampak pada adanya penurunan indikator kinerja subsektor perkebunan, khususnya tentang produktivitas tenaga kerja dan penerimaan pajak dan pangsa penerimaan pajak.  Evaluasi berbagai skenario pada simulasi historis dan peramalan selengkapnya disajikan berikut ini.

5.3.1.   Evaluasi Dampak Berbagai Skenario Kebijakan dan Non Kebijakan: Simulasi Historis  (1994-1998)

Hasil simulasi historis (Tabel 1) menunjukkan bahwa dampak dari berbagai skenario terhadap nilai tambah dan pangsa nilai tambah cenderung positif, kecuali dampak dari Skenario 9 yaitu jika terjadi kenaikan harga pupuk saja.  Dampak negatif dari kenaikan harga pupuk terhadap nilai tambah dan pangsa nilai tambah ini dapat diredam jika kenaikan harga pupuk disertai oleh perubahan kebijakan pemerintah dan atau terjadi perubahan faktor non-kebijakan.  Skenario 5, 6 dan 7 merupakan skenario yang menghasilkan dampak positif terbesar terhadap nilai tambah dibandingkan skenario-skenario yang lain.  Dari ketiga skenario tersebut, kebijakan penurunan pajak pertambahan nilai, kebijakan pembangunan perkebunan dan depresiasi merupakan berperan penting dalam meningkatkan nilai tambah subsektor perkebunan masa lalu. 

Dampak negatif skenario simulasi terhadap serapan tenaga kerja dan pangsa serapan tenaga kerja terjadi jika salah satu dari Skenario 8, 9 dan 10 diterapkan.  Hal ini berarti pada ketiga skenario kenaikan harga pokok yang dicerminkan oleh kenaikan upah dan harga pupuk bersifat menekan ketersediaan lapangan kerja walaupun berdampak positif terhadap indikator kinerja yang lain.  Hal yang perlu dicatat adalah  penurunan serapan tenaga kerja pada Skenario 8 dan 10 tidak diikuti dengan penurunan produktivitas tenaga kerja.  Skenario yang lain menghasilkan dampak positif bagi serapan tenaga kerja dan pangsa serapan tenaga kerja.  Skenario 1 dan 6 merupakan skenario yang menghasilkan dampak positif terbesar dibandingkan skenario-skenario lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa kebijakan pembangunan perkebunan dan depresiasi berperan penting dalam meningkatkan serapan tenaga kerja di subsektor perkebunan masa lalu.

Dampak berbagai skenario terhadap nilai ekspor dan impor, dan pangsa nilai ekspor, neraca perdagangan dan rasio perdagangan cenderung positif, kecuali dampak dari Skenario 3 dan 9.  Hal ini berarti pemberlakuan perdagangan bebas pada Skenario 3 tidak menguntungkan perdagangan komoditas perkebunan Indonesia.  Selain itu, kenaikan harga pupuk pada Skenario 9 berdampak negatif terhadap nilai ekspor.  Namun dampak negatif ini dapat dikurangi jika pemberlakuan perdagangan bebas atau kenaikan harga pupuk disertai dengan penerapan kebijakan lainnya, seperti kebijakan pembangunan perkebunan, penurunan pajak pertambahan nilai dan kenaikan upah, dan juga terjadi perubahan faktor non kebijakan, seperti depresiasi nilai tukar Rupiah.  Skenario 1, 4 dan 6 merupakan skenario-skenario yang menghasilkan dampak positif lebih besar dibandingkan skenario-skenario lainnya.  Hal ini menunjukkan bahwa kebijakan pembangunan perkebunan, depresiasi dan kebijakan penurunan pajak pertambahan nilai dapat mengangkat kinerja subsektor perkebunan dalam aspek perdagangan masa lalu.

Sedangkan dampak berbagai skenario terhadap penerimaan pajak dan pangsa penerimaan pajak sebagian positif dan sebagian lainnya negatif. Kenaikan penerimaan dan pangsa penerimaan pajak terjadi jika Skenario 1, 5 dan 8 diterapkan.  Sedangkan, penurunan penerimaan pajak dan pangsa penerimaan pajak terdapat pada Skenario 2, 3, 4, 6, 7, 9 dan 10.  Seperti kesimpulan lainnya, hal ini menunjukkan bahwa depresiasi dan kebijakan pembangunan perkebunan berperan penting dalam meningkatkan kinerja subsektor perkebunan, dalam hal ini penerimaan pajak, pada masa lalu.

Berdasarkan evaluasi dampak dari berbagai skenario di atas, maka Skenario 5 merupakan skenario yang menghasilkan dampak positif paling menguntungkan bagi subsektor perkebunan.  Skenario 6 dan 7 merupakan skenario lain yang dapat menghasilkan peningkatan kinerja subsektor perkebunan, walaupun penerimaan pajak dari subsektor perkebunan berkurang. Skenario 5 merupakan skenario terbaik karena Skenario 5 ini memenuhi berbagai harapan yang mungkin dicapai dalam rangka memperbaiki kinerja subsektor perkebunan Indonesia (Lampiran 1).


 

.

 Tabel 1.  Ringkasan Hasil Simulasi Historis (1994-1998)

 

No

Indikator Kinerja

Nilai Tengah pada

 Simulasi Basis

Perbedaan nilai tengah setiap skenario terhadap nilai tengah pada simulasi basis (%):

S1

S2

S3

S4

S5

S6

S7

S8

S9

S10

1

Nilai Tambah (Rp 000)

62 920 478 330.54

0.4193

0.5016

0.0004

0.9225

1.5290

1.9547

2.1159

0.2698

-0.0054

0.2648

2

Serapan Tenaga Kerja (000 orang)

4 064.32

4.4725

0.0674

0.0006

4.5407

0.1674

4.6405

0.2447

-0.3107

-0.0001

-0.3102

3

Nilai Ekspor (US$)

1 219 129 852.66

3.7993

0.2514

-0.0004

4.0482

2.6047

6.3894

2.8793

1.9915

-0.1247

1.8654

4

Nilai Impor (US$)

11 728 787.66

-0.0197

-0.0459

0.1153

0.0450

-4.4294

-4.3365

-4.3780

-0.1553

-0.0395

-0.0799

5

Penerimaan Pajak (Rp 000)

27 156 720 564.33

6.5181

-0.0824

-23.7639

-18.9390

19.5214

-3.2218

-9.0187

7.3191

-0.1529

-18.3163

6

Pangsa Nilai Tambah (%)

2.37

0.4030

0.4902

0.0003

0.8945

1.5181

1.9265

2.0925

0.2660

-0.0059

0.2604

7

Pangsa Serapan Tenaga Kerja (%)

4.78

4.2238

0.0636

0.0006

4.2877

0.1577

4.3814

0.2306

-0.3036

-0.0001

-0.3031

8

Indeks Produktivitas Tenaga Kerja

0.49

-3.6721

0.4253

-0.0003

-3.2607

1.3610

-2.3543

1.8595

0.5991

-0.0059

0.5929

9

Neraca Perdagangan (US$)

1 207 401 065.00

3.8364

0.2543

-0.0015

4.0871

2.6730

6.4936

2.9498

2.0124

-0.1256

1.8843

10

Pangsa Nilai Ekspor (%)

10.93

3.4551

0.2372

0.0006

3.6875

2.3560

5.7694

2.6136

1.8138

-0.1131

1.7011

11

Rasio Ekspor-Impor (%)

98.15

0.0711

0.0056

-0.0022

0.0741

0.1265

0.1887

0.1302

0.0416

-0.0018

0.0377

12

Pangsa Penerimaan Pajak (%)

19.87

4.5010

-0.1222

-19.0030

-15.2962

13.7166

-3.0145

-7.2713

5.0215

-0.1312

-14.7939

.

Keterangan:      S1    :   Pemerintah tetap menerapkan kebijakan pembangunan perkebunan (D1=1)

S2    :   Pemerintah menurunkan pajak pertambahan nilai sebesar 50% (PPN=5%)

S3    :   Perdagangan bebas dunia (tarif impor dan pajak ekspor negara berkembang

            turun 24% dan tarif impor negara maju turun 40%)

S4    :   Gabungan S1, S2 dan S3

S5    :   Depresiasi nilai tukar rupiah terhadap $ US sebesar 10%

S6    :   Gabungan S1, S3 dan S5

S7    :   Gabungan S2, S3 dan S5

S8    :   Upah naik sebesar 10%

S9    :   Harga pupuk naik 10%

S10  :   Gabungan S3, S8 dan S9         


 

5.3.2.   Evaluasi Dampak Berbagai Skenario Kebijakan dan Non Kebijakan: Simulasi Peramalan  (2003-2008)

Sedikit berbeda dengan hasil pada simulasi historis, hasil simulasi peramalan (Tabel 2) menunjukkan bahwa dampak dari berbagai skenario terhadap nilai tambah dan pangsa nilai tambah cenderung positif, kecuali dampak dari Skenario 13 dan 19, yaitu jika terjadi perdagangan bebas dan kenaikan harga pupuk saja.  Dampak negatif dari perdagangan bebas dan kenaikan harga pupuk terhadap nilai tambah dan pangsa nilai tambah ini dapat diredam jika perdagangan bebas dan kenaikan harga pupuk disertai oleh perubahan kebijakan pemerintah dan atau terjadi perubahan faktor non-kebijakan.  Skenario 15, 16 dan 17 merupakan skenario yang menghasilkan dampak positif terbesar terhadap nilai tambah dibandingkan skenario-skenario yang lain.  Seperti pada simulasi historis, kebijakan pembangunan perkebunan, kebijakan penurunan pajak pertambahan nilai dan depresiasi berperan penting dalam meningkatkan nilai tambah subsektor perkebunan pada masa mendatang. 

Sedikit berbeda dengan yang terjadi pada simulasi historis, dampak negatif skenario simulasi peramalan terhadap serapan tenaga kerja dan pangsa serapan tenaga kerja terjadi jika salah satu dari Skenario 13, 18, 19 dan 20 diterapkan.  Hal ini berarti skenario berlakunya perdagangan bebas (Skenario 13) dan kenaikan harga pokok (Skenario 18, 19 dan 20) yang dicerminkan oleh kenaikan upah dan harga pupuk bersifat menekan ketersediaan lapangan kerja walaupun dapat berdampak positif terhadap indikator kinerja yang lain.  Hal yang perlu dicatat adalah  penurunan serapan tenaga kerja pada Skenario 18 dan 20 tidak diikuti dengan penurunan produktivitas tenaga kerja.  Skenario yang lain menghasilkan dampak positif bagi serapan tenaga kerja dan pangsa serapan tenaga kerja.  Skenario 11, 14 dan 16 merupakan skenario yang menghasilkan dampak positif terbesar dibandingkan skenario-skenario lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa kebijakan pembangunan perkebunan dan depresiasi berperan penting dalam meningkatkan serapan tenaga kerja di subsektor perkebunan ke depan.

Konsisten dengan yang terjadi pada simulasi historis, dampak berbagai skenario terhadap nilai ekspor dan impor, dan pangsa nilai ekspor, neraca perdagangan dan rasio perdagangan cenderung positif, kecuali dampak dari Skenario 13 dan 19.  Hal ini berarti pemberlakuan perdagangan bebas pada Skenario 13 tidak menguntungkan perdagangan komoditas perkebunan Indonesia.  Selain itu, kenaikan harga pupuk pada Skenario 19 berdampak negatif terhadap nilai ekspor.  Namun dampak negatif ini dapat dikurangi jika pemberlakuan perdagangan bebas atau kenaikan harga pupuk disertai dengan penerapan kebijakan lainnya, seperti kebijakan pembangunan perkebunan, penurunan pajak pertambahan nilai dan kenaikan upah, dan juga terjadi perubahan faktor non kebijakan, seperti depresiasi nilai tukar Rupiah.  Skenario 11, 14 dan 16 merupakan skenario-skenario yang menghasilkan dampak positif lebih besar dibandingkan skenario-skenario lainnya.  Hal ini menunjukkan bahwa kebijakan pembangunan perkebunan, depresiasi dan kebijakan penurunan pajak pertambahan nilai dapat mengangkat kinerja subsektor perkebunan dalam aspek perdagangan pada masa mendatang.

Seperti pada simulasi historis, dampak berbagai skenario terhadap penerimaan pajak dan pangsa penerimaan pajak sebagian positif dan sebagian lainnya negatif. Sedikit berbeda dari simulasi historis, kenaikan penerimaan dan pangsa penerimaan pajak terjadi pada Skenario 11, 12, 15, 16, 17 dan 18.  Sedangkan, penurunan penerimaan pajak dan pangsa penerimaan pajak terdapat pada Skenario 13, 14, 19 dan 20.  Kenaikan penerimaan pajak terbesar terjadi pada Skenario 11, 15 dan 16. Seperti kesimpulan lainnya, hal ini menunjukkan bahwa depresiasi dan kebijakan pembangunan perkebunan berperan penting dalam meningkatkan kinerja subsektor perkebunan, dalam hal ini penerimaan pajak, pada masa mendatang.

Berdasarkan evaluasi dampak dari berbagai skenario di atas, maka Skenario 15 dan  16 merupakan skenario yang menghasilkan dampak positif relatif paling menguntungkan bagi subsektor perkebunan (Lampiran 2).  Seperti Skenario 5, Skenario 15 ini memenuhi berbagai harapan yang mungkin dicapai dalam rangka memperbaiki kinerja subsektor perkebunan Indonesia.

Namun demikian, Skenario 15 bukanlah Skenario yang paling mungkin terjadi.  Dengan asumsi, perdagangan bebas komoditas perkebunan pasti diterapkan pada masa mendatang, maka format skenario kebijakan tidak akan terlepas dari adanya perdagangan bebas tersebut.   Asumsi ini mengandung implikasi bahwa alternatif kebijakan yang dapat diajukan merupakan kombinasi skenario kebijakan.  Oleh karena itu, Skenario 16 merupakan salah satu alternatif pilihan skenario yang dapat diterapkan pemerintah pada masa mendatang (Lampiran 3). 

.

.


 

Tabel 2.   Ringkasan Hasil Simulasi Peramalan (2003-2008)

.

No

Indikator Kinerja

Nilai Tengah pada

 Simulasi Basis

Perbedaan nilai tengah setiap skenario terhadap nilai tengah pada simulasi basis (%):

S11

S12

S13

S14

S15

S16

S17

S18

S19

S20

1

Nilai Tambah (Rp 000)

154 926 463 637.21

0.3749

0.4671

-0.0004

0.8436

1.1358

1.5160

1.6659

0.1698

-0.0085

0.1609

2

Serapan Tenaga Kerja (000 orang)

6 182.22

5.3686

0.0924

-0.0001

5.4613

0.2060

5.5745

0.3098

-0.1416

-0.0005

-0.1422

3

Nilai Ekspor (US$)

1 688 954 427.35

5.4283

0.2353

-0.0780

5.4391

2.8680

7.8886

2.8648

2.8895

-0.8935

1.9042

4

Nilai Impor (US$)

35 218 713.69

-0.5753

-0.2917

0.0103

-0.8696

-4.1216

-4.6868

-4.4479

-0.2064

-0.2586

-0.4541

5

Penerimaan Pajak (Rp 000)

105 944 832 628.40

12.7110

0.1787

-14.9521

-4.5053

20.2358

14.0312

2.3316

8.0308

-0.4343

-8.8055

6

Pangsa Nilai Tambah (%)

3.26

0.3606

0.4514

-0.0004

0.8133

1.0968

1.4620

1.6086

0.1636

-0.0082

0.1550

7

Pangsa Serapan Tenaga Kerja (%)

6.69

4.9866

0.0862

-0.0001

5.0724

0.1921

5.1772

0.2888

-0.1321

-0.0005

-0.1326

8

Indeks Produktivitas Tenaga Kerja

0.49

-4.3799

0.3648

-0.0004

-4.0271

0.9022

-3.5066

1.3152

0.2952

-0.0077

0.2871

9

Neraca Perdagangan (US$)

1 653 735 713.65

5.5561

0.2466

-0.0799

5.5735

3.0169

8.1564

3.0206

2.9554

-0.9071

1.9544

10

Pangsa Nilai Ekspor (%)

13.45

4.6263

0.2097

-0.0679

4.6448

2.4902

6.7445

2.4970

2.4563

-0.7602

1.6234

11

Rasio Ekspor-Impor (%)

95.92

0.2383

0.0216

-0.0037

0.2501

0.2829

0.4869

0.2956

0.1263

-0.0273

0.0970

12

Pangsa Penerimaan Pajak (%)

30.00

8.3333

0.1230

-10.7811

-3.0673

13.3104

9.5201

1.7538

5.3509

-0.3029

-6.1760

.

Keterangan:      S11  :   Pemerintah tetap menerapkan kebijakan pembangunan perkebunan (D1=1)

S12  :   Pemerintah menurunkan pajak pertambahan nilai sebesar 50% (PPN=5%)

S13  :   Perdagangan bebas dunia (tarif impor dan pajak ekspor negara berkembang turun 24% dan tarif impor negara maju turun 40%)

S14  :   Gabungan S11, S12 dan S13

S15  :   Depresiasi nilai tukar rupiah terhadap $ US sebesar 10%

S16  :   Gabungan S11, S13 dan S15

S17  :   Gabungan S12, S13 dan S15

S18  :   Upah naik sebesar 10%

S19  :   Harga pupuk naik 10%

S20  :   Gabungan S13, S18 dan S19


 

Seperti telah dijelaskan sebelumnya, Skenario 16 ini berdampak positif terhadap kinerja subsektor perkebunan, kecuali terhadap produktivitas tenaga kerja.  Penurunan kinerja ini terjadi karena pangsa kenaikan nilai tambah lebih kecil dari pada pangsa kenaikan serapan tenaga kerja.  Dengan pengertian serapan tenaga kerja meningkat, maka penurunan produktivitas tenaga kerja ini dapat dimaklumi.

Setelah Skenario 16, urutan skenario yang dapat diajukan adalah Skenario 17, 14 dan 20.  Kelemahan skenario 17 terletak pada dampak negatifnya terhadap penerimaan pajak pemerintah.  Sedangkan kelemahan Skenario 14 adalah adanya dampak negatif terhadap penerimaan pemerintah dan penurunan produktivitas tenaga kerja.  Akhirnya, Skenario 20 mempunyai kelemahan adanya penurunan serapan tenaga kerja, penerimaan pemerintah dan produktivitas tenaga kerja.

Selain skenario-skenario di atas, pada dasarnya masih terdapat kemungkinan skenario gabungan antara Skenario 13 dan lainnya, seperti gabungan Skenario 11, 13, 18 dan 19, Skenario 12, 13, 18 dan 19 dan Skenario 13, 15, 18 dan 19, yang dapat diajukan.  Namun, gabungan skenario tersebut diperkirakan tidak akan menghasilkan dampak positif lebih baik dari Skenario 14, 16 dan 17.  Oleh karena itu, urutan usulan skenario di atas masih dapat dipertahankan.

.

VI.     KESIMPULAN DAN SARAN

6.1.      Kesimpulan

Beberapa kesimpulan yang dapat ditarik dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1.       Model subsektor perkebunan yang berkaitan dengan perdagangan komoditas utama perkebunan dunia berhasil dibangun.  Model yang dibangun tersebut dapat digunakan untuk tujuan simulasi historis dan peramalan melalui 10 skenario kebijakan dan non kebijakan. Hasil dari penggunaan model ini dapat dijadikan landasan untuk mengevaluasi dan mengajukan alternatif-alternatif kebijakan pemerintah dalam rangka meningkatkan kinerja subsektor perkebunan.

2.       Kinerja subsektor perkebunan pada masa lalu (1994-1998) sebenarnya masih dapat ditingkatkan melalui penerapan kebijakan yang tepat. Pemberhentian kebijakan pembangunan perkebunan dan penerapan pajak pertambahan nilai, cenderung berdampak negatif bagi kinerja subsektor perkebunan.  Bahkan, subsektor perkebunan sampai tidak mampu menangkap momentum depresiasi nilai tukar Rupiah pada saat krisis ekonomi tahun 1997 secara maksimal. Pada masa mendatang (2003-2008) prospek kinerja subsektor perkebunan masih dapat membaik melalui penerapan kebijakan yang tepat, seperti pemberlakuan kembali kebijakan pembangunan perkebunan dan penurunan pajak pertambahan nilai.  

3.       Pembangunan perkebunan harus ditangani secara serius kalau ingin memajukan subsektor perkebunan dalam perekonomian nasional. Penerapan kebijakan pembangunan perkebunan, baik melalui penerapan skenario tunggal atau gabungan, dapat meningkatkan kinerja subsektor perkebunan termasuk mampu meredam dampak negatif dari perdagangan bebas.   

4.       Kebijakan penurunan pajak pertambahan nilai mampu meningkatkan kinerja subsektor perkebunan, kecuali dalam hal penerimaan pajak pertambahan nilai dari subsektor perkebunan.  Penerapan kebijakan ini, baik melalui penerapan skenario tunggal maupun gabungan, dapat meningkatkan  kinerja subsektor perkebunan walaupun penerimaan pemerintah dari pajak pertambahan nilai berkurang.       

5.       Kebijakan memberlakukan perdagangan bebas cenderung berdampak negatif bagi kinerja subsektor perkebunan.  Daya saing komoditas perkebunan Indonesia kalah dibandingkan daya saing komoditas perkebunan yang dihasilkan oleh negara-negara pesaing. Posisi ekspor Indonesia dengan adanya perdagangan bebas kalah dibandingkan dengan negara-negara pesaing.

6.       Depresiasi nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat  berperan positif dan relatif menentukan bagi peningkatan kinerja subsektor perkebunan. Kinerja subsektor perkebunan mengalami peningkatan dengan adanya depresiasi nilai tukar Rupiah dengan atau tanpa dibarengi dengan kebijakan pembangunan perkebunan atau penurunan pajak pertambahan nilai.      

7.       Kenaikan upah tenaga kerja di subsektor perkebunan ternyata hanya menimbulkan dampak negatif pada penyerapan tenaga kerja, sedangkan kinerja subsektor perkebunan lainnya menunjukkan adanya perbaikan.  Kenaikan upah ini selain mampu meredam dampak negatif perdagangan bebas, juga mampu mengatasi masalah kenaikan harga pupuk. 

8.       Kenaikan harga pupuk berdampak negatif tetapi kecil terhadap kinerja subsektor perkebunan, kecuali terhadap nilai impor.  Namun dampak negatif ini masih dapat diredam antara lain dengan meningkatkan produktivitas tenaga kerja yang termotivasi oleh adanya peningkatan upah.

9.       Berdasarkan intensitas dampak penerapan kebijakan terhadap kinerja subsektor perkebunan, baik pada masa lalu (1994-1998) maupun pada era perdagangan bebas (2003-2008), dampak penerapan kebijakan pembangunan perkebunan lebih intensif dibandingkan penerapan kebijakan penurunan pajak pertambahan nilai dan peningkatan upah tenaga kerja. Kebijakan pembangunan perkebunan tersebut juga lebih efektif untuk mengatasi dampak negatif dari pemberlakuan perdagangan bebas dan peningkatan harga pupuk. 

10.   Berdasarkan intensitas dampak penerapan kebijakan dan/atau non kebijakan, maka Skenario 6, 7 dan 5 merupakan tiga skenario terbaik pada simulasi historis. Sedangkan pada simulasi peramalan, tiga skenario terbaik adalah Skenario 16, 17 dan 15. Pada era perdagangan bebas mendatang, Skenario 16, 17, 14 dan 20 pada umumnya mampu meredam dampak negatif yang ditimbulkan dari pemberlakuan perdagangan bebas.

10.2.    Saran

10.2.1. Kebijakan

Beberapa saran yang dapat diajukan berdasarkan kesimpulan-kesimpulan di atas adalah:

1.       Dalam rangka menghadapi pemberlakuan perdagangan bebas dengan atau tanpa depresiasi nilai tukar Rupiah, kebijakan-kebijakan pembangunan perkebunan, penurunan pajak pertambahan nilai dan peningkatan upah tenaga kerja dapat digunakan sebagai alternatif untuk meningkatkan kinerja subsektor perkebunan.

2.       Khusus tentang kebijakan pembangunan perkebunan, beberapa hal mendasar perlu diperhatikan. Jika kebijakan pembangunan perkebunan merupakan pilihan untuk dihidupkan kembali, maka kebijakan tersebut hendaknya merupakan  kebijakan pembangunan perkebunan yang memerlukan beberapa modifikasi sesuai perkembangan sosial ekonomi masyarakat perkebunan dan kebutuhan pelaku perkebunan.

3.       Jika penerapan pajak pertambahan nilai masih diterapkan, maka nilai pajak yang diperoleh seyogyanya dapat digunakan sebagai salah satu sumber pendanaan kebijakan pembangunan perkebunan. Dana pembangunan perkebunan tersebut pada dasarnya diberikan secara langsung kepada pelaku perkebunan.  Pengelolaan dana tersebut dapat dilakukan oleh suatu lembaga yang merupakan representasi dari para pelaku usaha di subsektor perkebunan.

4.       Jika kebijakan penurunan pajak pertambahan nilai menjadi pilihan, maka pilihan tersebut harus disertai dengan upaya peningkatan konsumsi domestik komoditas perkebunan untuk menutup penurunan penerimaan pajak pemerintah.  Pengembangan industri hilir perkebunan dan pengendalian impor komoditas perkebunan merupakan suatu hal yang penting untuk direalisasikan.

5.       Jika kebijakan kenaikan upah menjadi pilihan, maka pilihan kebijakan tersebut harus disertai upaya penyediaan lapangan kerja bagi tenaga kerja subsektor perkebunan yang kehilangan pekerjaan.  Pelatihan tenaga kerja untuk usaha dan/atau bekerja di usaha lain perlu dilakukan.  Selain itu, informasi ketenagakerjaan juga perlu dikembangkan. 

6.       Alternatif kebijakan lain untuk meningkatkan kinerja subsektor perkebunan yang  dapat dilakukan adalah pemberian subsidi terhadap harga pupuk dan/atau antisipasi kekeringan serta pengendalian dampak kekeringan. Dalam implementasinya, penerapan kebijakan subsidi dan penanganan kekeringan ini dapat dilakukan dengan menggabungkannya dengan kebijakan penerapan pembangunan perkebunan.  

10.2.2. Penelitian Lanjutan

Penelitian ini juga merekomendasikan penelitian lanjutan  yang masih diperlukan agar dapat menjelaskan keragaan subsektor perkebunan Indonesia secara lebih baik dan lengkap.  Penelitian lanjutan yang dimaksud adalah :

1.      Model dalam penelitian ini masih perlu diperluas dan diperdalam. Beberapa faktor yang perlu diketahui perilakunya dan perlu untuk dimasukkan dalam model diantaranya adalah investasi di industri kelima komoditas perkebunan yang diteliti.  Selain itu, perilaku produksi negara-negara pesaing Indonesia perlu diperhitungkan, selain perilaku konsumsi negara-negara pengimpor.

2.      Dalam kaitannya dengan perdagangan bebas dunia, model yang digunakan perlu memasukkan variabel-variabel yang berkaitan dengan hambatan selain tarif (non tariff barriers), seperti hambatan teknis perdagangan (technical barrier to trade). Indonesia perlu mengantisipasi adanya hambatan-hambatan teknis, yang sedang dikembangkan negara-negara maju.  Hambatan teknis tersebut, yang ditetapkan masing-masing negara, dikaitkan dengan kesehatan dan lingkungan melalui sanitary and phitosanitary measures, disamping safety and security measures untuk hal-hal yang berkaitan dengan pangan. Variabel-variabel hambatan teknis tersebut dapat dimasukkan dengan menggunakan variabel dummy yang dibedakan antara sebelum dan setelah adanya hambatan teknis. 


 

DAFTAR PUSTAKA

Ahuja. H. L. 1997.  Modern Economics. S. Chand & Company, Ltd. New Delhi.

Arifin, S., B. Dradjat, W. Susila dan A. Supriono. 1999.  The Impacts of Economic Crisis on the Estate Crops Sub-Sector in Simatupang et. al (eds). Indonesia’s Economic Crisis: Effects on Agriculture and Policy Responses. Center for International Economic Studies, University of Adelaide, Adelaide. Prosiding of the International Seminar on Agricultural Sector During the Turbulence of the Economic Crisis: Lessons and Future Directions. Bogor, 17-18 February 1999.

Akiyama, T. (1993).  Adding-up Problem – Strategies for Primary Commodity Exports in Sub-Saharan Africa.  The World Bank Policy Research Working Papers.

Aziz, I. J. 1993.  Model Standar dan Kritik Ratex untuk Studi Simulasi Kondisi Eksternal Indonesia dalam Anwar dan Aziz (eds). 1993.  Bunga Rampai Konsep Ekonomi.  Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Jakarta.

Badan Pusat Statistik, 1999.  Indikator Ekonomi.  Badan Pusat Statistik, Jakarta.

Boediono. 1979. Econometric Models of Indonesian Economy for Short-Run Policy Analysis. Ph.D Dissertation. University of Pensylvania.

Central Bureau of Statistics. 1984.  Preliminary Results of Econometrics Models in the ELSA Projects.  Institute of Developing Economies, Tokyo.

Cooray, N.S. 1998.  Macroeconomic Management in Developing Countries.  Regional Development Studies, United Nations, New York.

Direktorat Jenderal Perkebunan. 1994.  Rencana Pembangunan Lima Tahun Keenam (Repelita VI) Subsektor Perkebunan (1994/1995 - 1998/1999).  Direktorat Jenderal Perkebunan, Jakarta.

Direktorat Jenderal Bina Produksi Perkebunan. 2001.  Rencana Strategis Pembangunan Perkebunan, Direktorat Jenderal Perkebunan, Jakarta.

Djamin, Z.  1993.  Peranan Ekspor Non Migas Dalam PJP II : Prospek dan Permasalahan.  Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Jakarta.

Doran, H. E. dan J.W.B. Guise.  1984.  Single Equation Methods in Econometrics : Applied Regression Analysis.  Teh University of New England, Armidale.

Dradjat, B., R. Dereinda, B.S. Abbas.  1995.  Implikasi penurunan tarif impor CPO di pasar Eropa Barat, Jepang dan Amerika Serikat bagi ekspor Indonesia.  Jurnal Pengkajian Agribisnis Perkebunan, Vol. 1, No. 3 : 8-16.

Glahe, F. R. 1977.  Macroeconomics: Theory and Policy. Hartcourt Brace Javanovich, Inc, New York.

Gujarati, D. N. 1995.  Basic Econometrics.  Mc. Graw-Hill, Inc, New Delhi.

Hanani, N.  2000.  Kinerja Perekonomian Indonesia Pada Era Perdagangan Bebas : Analisis Simulasi Model Mikro-Makroekonometrika. Disertasi Doktor, Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.

Intrilligator, M. D. 1978.  Econometric Models, Techniques, & Applications.  Prentice Hall, Inc, New Jersey.

Johnston, J. 1972.  Econometric Methods.  Mc. Graw-Hill, Inc. Tokyo.

Just, E. R., D.L. Hueth, dan A. Schmitz. 1982.  Applied Welfare Economics and Public Policy.  Prentice Hall, Inc, New Jersey.

Koutsoyiannis, A. 1977.  Theory of Econometrics.  Harfer & Ron Publishers, Inc.  London.

______________. 1978. Modern Microeconoimcs. Macmillan Education Ltd. London.

Labys, W. C. 1973.  Dynamic Commodity Models : Specification, Estimation, and Simulation.  Lexington Books, D. C. Heath and Company.  Lexington, Massachussets.

Labys, W.C. dan P.K. Pollak. 1984.  Commodity Models for Forcasting and Policy Analysis.  Nichols Publishing Company, New York.

Limbong, W. H. 1994.  Keragaan Karet Alam Indonesia Ditinjau dari Jenis Pengusahaan dan Wilayah Produksi.  Disertasi Doktor, Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.

Manurung, J. 1993.  Model Ekonometrika Industri Komoditi Kelapa Sawit Indonesia : Suatu Analisis Simulasi Kebijakan.  Thesis Magister Sain, Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.

Marks, S. V., D.F. Larson dan J. Pomeroy.  1998.  Economic effects of taxes on exports of pal oil products.  Bulletin of Indonesian Economic Studies, 34 (3) :  37-58.

Mundlak, Y dan D. F. Larson. 1992.  On the Transmission of World Agricultural Prices. The World Bank Economic Review, 2 (3) : 399 – 423.

Pakpahan, A. 1999.  Membangun Perkebunan Abad 21: Membalik Arus dan Gelombang Sejarah. Direktorat Jenderal Bina Produksi Perkebunan, Jakarta.

__________. 1999. Reformasi Agraria: Upaya Peningkatan Produktivitas Masyarakat  Direktorat Jenderal Bina Produksi Perkebunan, Jakarta.

__________. 2000. Kinerja, Prospek dan Kebijaksanaan Pengembangan Agribisnis Perkebunan di Indonesia. Direktorat Jenderal Bina Produksi Perkebunan, Jakarata.

Partadiredja, A.  Perhitungan Pendapatan Nasional.  LP3ES, Jakarta.

Pasquali, M. 1995.  The Changing World Trade Environment in the Oilseeds, Oils, and Oil Meals Sector with Special Reference to the Asia and Pacific Region.  FAO Regional Office for Asia and Pacific, Bangkok, Thailand.

Pindyck, R. S. dan D.L. Rubinfeld. 1987.  Econometric Models and Economic Forecasts.  Mc. Graw-Hill Book Co, Singapore.

Ratnawati, A. 1995.  Kebijakan Penurunan Tarif Impor dan Pajak Ekspor : Kinerja Perekonomian Sektor Pertanian dan Distribusi Pendapatan di Indonesia.  Disertasi Doktor, Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.

Saragih, B. 1998.  Prospek Agribisnis Perkebunan Sebagai Jalan Keluar Krisis Ekonomi dan Strategi Pengembangan Kedepan dalam Dradjat, et. al (eds).  Prosiding Lokakarya Kemitraan Pertanian dan Ekspose Teknologi Mutakhir Hasil Penelitian Perkebunan, Semarang 20-21 Oktober 1998.  Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Ungaran dan Sekretariat Dewan Pembina Pusat Penelitian Perkebunan Bogor.

Sihotang, J. 1996. Analisis Penawaran dan Permintaan Kopi Indonesia di Pasar Domestik dan Internasional.  Thesis Magister Sain, Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.

Simanjuntak, S. B. 1992.  Analisis Daya Saing dan Dampak Kebijaksanaan Pemerintah terhadap Daya Saing Perusahaan Kelapa Sawit Indonesia. Thesis Magister Sain, Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.

Siswoputranto, P.S. 1993.  Kopi Internasional dan Indonesia.  Kanisius, Yogyakarta.

Smit, H. 1991.  The Use of Econometric Models for Commodity Policy Analysis.  Proceedings of the Workshop on the Use of Econometric Models for Commodity Policy Formulation, 30 October - 3 November 1989, Bangkok. United Nations, New York.

Sriyono, D. 1994.  Analisis Ekonomi Makro Indonesia Selama Pelita I – Pelita IV (1969 – 1988).  Tesis Magister Sain, Fakultas Pasca Sarjana, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Suryana, A. 1986.  Trade Prospects of Indonesian Palm Oil in the International Markets for Fats and Oils.  Ph. D. Dissertation.  North Caroline State University, Raleigh.

Suprihatini, R., B. Dradjat, dan B. Sulistyo. 1996.  Analisis daya saing teh hitam Indonesia.  Jurnal Pengkajian Agribisnis Perkebunan, 2 (1) : 1 – 7.

Susila, W. R., B. S. Abbas, B. Mardi, dan M. Sarjono. 1995.  Model ekonomi domestik minyak sawit mentah.  Jurnal Pengkajian Agribisnis Perkebunan, 1 (2) : 1 – 12.

Susila, W. R., B. S. Abbas, A. Priyambodo, dan S. O. Lubis. 1995.  Model ekonomi minyak sawit mentah dunia.  Jurnal Agro Ekonomi, 14 (2) : 21 – 43.

Susila, W. R. 1998.  Daya saing komoditas minyak sawit Indonesia.  Jurnal Agribisnis, II (2) : 16 – 30.

Susila, W.R. 1999. Keunggulan komparatif dan kompetitif kopi Indonesia.  Pelita Perkebunan,15(2):129-140.

Susilowati, S. H. 1989.  Pasar Minyak Sawit Dunia dan Kaitannya dengan Ekspor Minyak Sawit Indonesia.  Thesis Magister Sain, Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.

Tambunan, T.  1996.  Perekonomian Indonesia.  Ghalia Indonesia, Jakarta.

The University of New England. 1989. Applied Econometrics.  The University of New England, Armidale.

Wahyudi, A. 1996.  Analisis Struktur dan Kinerja Perdagangan Internasional Indonesia Khususnya Produk Primer dan Non Primer Pertanian.  Disertasi Doktor, Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.

Widjaja, A.  2000.  Dampak Perdagangan Bebas terhadap Kinerja Ekonomi Indonesia: Model Makroekonomika.  Disertasi Doktor, Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.

Widodo, S. T.  1990.  Indikator Ekonomi : Dasar Perhitungan Perekonomian Indonesia.  Kanisius, Yogyakarta.

Zulkifli.  2000.  Dampak Perdagangan Bebas terhadap Keragaan Industri Kelapa Sawit Indonesia dan Perdagangan Minyak Sawit Dunia. Disertasi Doktor, Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.


 

 

 

.


 

[1]     Akiyama (1993) mendefinisikan adding-up problem sebagai kenaikan nilai ekspor tidak propor­sional, bahkan turun sebagai akibat kenaikan volume ekspor.  Elastisitas nilai ekspor mendekati atau lebih kecil nol.

.

    Kunjungan ke-18483,
Sejak: 31 Agustus 2004
 
   Home | Penelitian | Tenaga Ahli | Patent | Jasa & Konsultasi | Publikasi | Produk | Site Map | Hubungi Kami | Member Login